Mendung Di Awal Februari



Di pusaramu masih tersimpan hangatnya cerita yang telah lama kita lewati, di sini engkau abadikan kisahmu dalam diam dan bisumu. Sebuah misteri dibalik gundukan tanah yang masih basah bertabur mawar merah, dan disinilah engkau rebahkahkan jasadmu dalam peraduan nir istirahatmu. Terkubur dalam seribu kenang dibalik pembaringanmu, terpendam dalam keabadian untuk mengakhiri kisah ini. Masih diatas sini aku berdiri, menatap batu nisan itu terukir jelas di mataku.. tertulis “2 Februari 2010”. Dan mungkinkah ini segala akhir yang paling akhir dari setiap langkah dan impian kita, sedang dalam hatiku masih terasa berat melangkah meninggalkan pusaramu. Kuingin selamanya menemanimu dalam kisah ini, menyayangimu sampai waktu memanggil untuk melepas hidupku..

Selama nafasku masih mampu merajut kehidupan, ayat-ayat setiaku yang lahir dan berdzikir akan senatiasa mengiringi di setiap kisah di akhir kehidupanku. Dalam doa dan harap, masih aku tekuni bayang-bayangmu yang selalu hadir dalam kesendirianku, memberikan kekuatan dalam hidupku dan senantiasa menuntunku untuk terus menjalani roda kehidupan ini. Kehangatan senyum-mu senantiasa merebak di setiap sudut lamunanku, kesabaranmu senantisa meredupkan amarahku di saat desir darah ini telah meningkat. Dalam sepi dekapmu selalu hadir menghangatkan tubuhku yang telah membeku, di sudut keningmu engkau senantiasa membelai rambutku dengan penuh kelembut. Engkaulah hal yang terindah dalam hidupku yang mampu menyanjungku sebagai penyemangat dalam setiap langkahku..

Engkau pasrahkan seluruh hidupmu untuk-ku, dengan penuh keiklasan menjalani kebersaaman tanpa mengeluh dan keterpaksaan. Engkau percayakan seluruh hidupmu untuk mengarungi kebersamaan dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini, meski engkau tahu akulah seorang lelaki yang selalu pesimis menghadapi tantangan kehidupan ke depan. Tapi itu tak membuat engkau surut untuk memberi dorongan & menemani aku dalam setiap langkah-langkah kehidupan. Disinilah aku temukan engkau dalam kehangatan membangun sebuah keluarga sakinah, mawadah wa rohmah, dan disinilah impian-impian kita terwujud tanpa adanya sakit dan tersakiti, tanpa adanya perpisahan dan kepergian. Tercatat keabadian tentang pernikahan kita di bulan Desember 2006.

Namun Tuhan telah menuliskan kisah lain untuk melengkapi kepedihan dalam hidupku, ketika engkau harus tergolek lemah melawan maut membayangi kehidupanmu. Masih membekas jelas dalam ingatanku, ketika seorang dokter berucap tentang kengerian kanker payudara, penyakit yang sampai saat ini belum diketemukan obatnya. Aku baca dan aku baca lagi berulangkali hasil biopsi rumah sakit yang aku terima saat itu, tertulis “stadium tiga”. Terasa runtuh ketika sadar kenyataan telah terpampang dengan jelas, dan serasa semakin rapuh ketika melihatmu harus terbaring lemas di sudut bangsal itu.

Ya Alloh Ya Robbi.. Harapku, berikanlah kesembuhan untuk belahan jiwa yang telah engkau tunjuk sebagai pendamping hidupku, berikanlah keajaiban lewat belaian tangan-MU yang penuh rahmat untuk hambamu yang telah menemani hidupku. Tiada tempat aku meminta selain hanyalah kepadamu Ya Rob.. Jangan engkau hentikan perjalanan ini dalam gelap tanpa setitik cahaya, berikanlah secerca harap itu untuk mengarungi samudra kehidupan sampai udzurnya kehidupan kami. Ya Alloh jangan sekarang dan tidak untuk saat ini.. kumohon,

2,5 tahun telah terlewat, masih dalam doaku aku berharap.. 2 kali operasi amputasi, dan harus berulang kali kemoterapi. Entah berapa kali aku menangisi keadaanmu, meratapi nasib yang tercatat untuk kehidupanmu. Doaku tiada putus untuk selalu berharap dan selalu mengharapkan kesembuhanmu.

Pukul 21:00, ketika engkau genggam tanganku.. berucap lirih ” Mas, selalu sayangi aku ya.. meski suatu saat nanti, aku tidak dapat lagi menemani hidupmu..” Terasa hancur merasuk dalam hati, gelap menyelimuti pikiran tanpa gairah.. larut dalam kepanikan dan kepedihan. Ketakutanku selama ini semakin mencengkram erat, menderu melawan bisikan bathin tentang ketiadaan kamu..

Pukul 22.35, engkau hembuskan nafas terakhir.. melepas sakit yang telah menyesak dalam parumu, 2 Februari 2010 adalah mendung yang tertulis abadi dibatu nisan ini..

Magelang, 2 Februari 2010
KEMBALI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: