Berita Tentang Datangnya Nabi Muhammad Dalam Kitap Agama Nasrani, Hindu, Budha Dan Parsi

Masalah Kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Tercantum
Sebelumnya Dalam Kitab Suci Kuno

Menurut Kitab Suci Al-Qur’an, kedatangan Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah tercantum sebelumnya dalam kitab-kitab suci agama sebelum Islam. Tetapi sebelum saya membahas apa yang tersebut dalam kitab suci agama sebelum Islam tersebut, terlebih dahulu saya ingin mengetengahkan dua ayat Al-Qur’an yang erat sekali kaitannva dengan masalah ini.

Pertama, Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 157:
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang
(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”

Kedua, Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 81:
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi:
“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul, yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab:
“Kami mengakui. “Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para
Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.”

Pernyataan yang disebutkan di sini, menurut Al-Qur’an adalah bahwasanya seluruh Nabi-nabi telah mengakui akan datangnya seorang Nabi kaliber dunia, dimana sebagai misi dan tugas pokoknya adalah membenarkan dan membuktikan kuatnya kebenaran atas ajaran terdahulu para Nabi sebelumnya.

Masalah Kenabian dalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama)

Para Nabi berjanji kepada Allah swt. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad, mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian Nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya. Pent. Banyak sekali pernyataan tentang masalah kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam., baik yang tercantum dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Deuteronomy.

Kitab Nabi Musa a.s. berbicara dengan sangat jelasnya tentang akan
timbulnya/datangnya seorang Nabi (yang kemungkinan akan seperti Nabi Musa pula), dari antara saudara orang-orang Israel juga, yaitu keturunan Nabi Ismail a.s. atau bangsa Arab. Pernyataan itu sebagaimana tersebut berikut ini:



Artinya:
“Tuhan akan mendatangkan kepadamu seorang Nabi yang berasal dari antara kamu juga, yang dilahirkan sebagaimana aku, di mana kepadanya kamu harus beriman juga. Sesuai dengan kehendak Tuhan pada hari di mana ummat manusia dikumpulkan, berkatalah kamu semua, biarkanlah kami tidak mendengarkan lagi suara Tuhanku, dan tidak juga melihat api yang besar serta tidak pula aku ingin mati. Dan berkatalah Tuhan kepadaku, mereka akan menemukan apa yang telah mereka katakan. Aku akan datangkan kepada mereka seorang Nabi yang berasal dari tengah-tengah mereka, sebagaimana kamu, dan akan Aku letakkan kata-kata-Ku pada mulutnya, dan dia akan berkata
kepada mereka apa yang Aku perintahkan kepadanya untuk berkata demikian.” (Deuteronomy,18:15-18) Perjanjian Lama: Ulangan
18:15-18.

Dalam pesan yang termaktub pada Kitab Nabi Musa a.s. tersebut di atas tentang Nabi kita adalah merupakan sebuah bukti bahwa sebelumnya telah dicetuskan tentang akan kedatangannya. Tuhan telah menyatakan sendiri di depan bangsa Israel bahwa la akan mendatangkan seorang Nabi yang juga dari kalangan mereka.

Sekarang kita tidak meragukan lagi bahwa kata-kata “keluarga bangsa
Israel” bukan tidak mungkin atau sesuatu yang mustahil sebenarnya
menyebutkan bukan selain keturunan Nabi Ismail a.s. di mana satu-satunya keturunan Ismail setelah berakhirnya keturunan Ishaq a.s. adalah Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Hal ini diterima oleh keduanya, baik oleh agama Yahudi maupun Nasrani bahwa wahyu tentang kenabian dari bangsa Israel tidak dibuat sebagaimana kata yang tersebut dalam ayat tersebut, melainkan hanya menyatakan maksud mereka sendiri, di mana selanjutnya
mereka maksudkan orang-orang di antara mereka dengan bahasa mereka sendiri. Tetapi, Kitab Suci Al-Qur’an, sebaliknya menyebutkan tentang akan datangnya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui kata demi kata, yang merupakan sebuah fakta bahwa apa yang dimaksud dengan pernyataan “dan akan Kuletakkan kata-kata-Ku pada mulutnya,” tidaklah bisa diterapkan,
kecuali hanya untuk Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam hal akan mengangkat seorang Nabi lagi, Tuhan telah berkata kepada Nabi Musa a.s. “Akan Kudatangkan seorang Nabi dari antara mereka.” Tetapi, menurut Deuteronomy 34:10, tidak akan didatangkan lagi seorang Nabi dari antara bangsa Israel yang seperti Nabi Musa a.s. Tidak akan ragu-ragu lagi bahwa kenyataan yang dijanjikan tentang kenabian tersebut, tidak lain dan tidak bukan hanyalah Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berasal dari
keturunan Ismail a.s. yang juga saudara dari Israel (Ya’qub a.s.).

Masalah kenabian yang lahir adalah yang termaktub dalam Isaiah 21,7

Artinya :
” Dia melihat dua pengendara, satu di antaranya adalah pengendara keledai, sedangkan lainnya adalah pengendara unta, dia mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian . (“Perjanjian Lama: Jesaya 21:7.)

Adalah Isaiah melihat dua pengendara dalam pemandangannya. Di dalam pendapat kita, pesan tersebut di atas adalah menyangkut keimanan dari ajaran agama Yahudi yang asli. Dalam Injil berbahasa Inggris, diterjemahkan dengan

“Dia melihat kereta perang yang ditarik dengan beberapa keledai, dan sebuah kereta perang yang ditarik dengan beberapa ekor unta, dan seterusnya”

…”Sedangkan terjemahan Injil ke dalam bahasa Latin menyatakan sebagai berikut: “Dia melihat sebuah kereta perang dengan dua pengendara, satu diantaranya di atas seekor keledai, dan satu lainnya di atas seekor unta … dan seterusnya”.

Tidaklah diragukan lagi bahwa dua pengendara yang disebutkan di atas oleh Nabi Isaiah adalah suatu kebenaran ajaran agama yang diturunkan oleh Tuhan, di mana yang dimaksud dengan pengendara di atas seekor keledai adalah Nabi Isa a.s. (Jesus Kristus), karena dalam lingkungan Jerussalem tempat kenabiannya terdapat banyak keledai, sedangkan yang dimaksud dengan pengendara di atas seekor unta adalah Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yang merupakan Nabi dari semenanjung Arabia, di mana unta merupakan satu-satunya kendaraan yang paling utama di sana. Selanjutnya kenyataan sejarah menunjukkan bahwa ketika kemenangan diraih oleh kaum Muslimin, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki kota Mekkah
dengan agungnya dengan mengendarai seekor unta diikuti ribuan sahabat dan penduduknya.

Masalah Kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Perjanjian Baru: Dari Injil Yahya; Kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bahasa Yunani asli:

Artinya:
” Jika kamu mencintai-Ku, niscaya kamu akan mentaati perintah yang sudah aku sampaikan kepadamu. Dan aku akan bersembahyang kepada Bapa, dan Dia akan memberimu Pemberi Kabar Gembira yang lain, yang mungkin bersamamu untuk selamanya. Sesuatu yang telah aku sampaikan kepadamu ini akan tetap kekal bersamamu. Tetapi Pemberi Kabar Gembira yang merupakan pembawa semangat kebenaran yang akan dikirimkan oleh Bapa, dia akan memberimu
pelajaran tentang segala sesuatu dan membawa segala sesuatu kepada seluruh ingatanmu, demikianlah apa yang kukatakan kepadamu.”(Yahya 14 : 15 – 16; 25- 26)


“Sekalipun demikian, aku katakan kepadamu tentang kebenaran. Adalah kebijakan untukmu jika aku pergi, atau jika aku tidak pergi, Pembawa Kabar Gembira tidaklah akan datang kepadamu … dan dia, bilamana datang, akan memberi hukum di dunia berlandaskan kepada dosa dan kebenaran serta kebijaksanaan. Aku belum begitu banyak berkata kepadamu, tapi kalian tidak bisa menahan sekarang. Walaupun begitu, apabila dia, Pembawa Semangat Kebenaran datang, dia akan membimbingmu kearah keimanan di mana ia tidak
akan bicara atas kemauannya sendiri, melainkan apa yang ia dengar (dari Tuhan), ia akan katakan, dan ia akan menyatakannya kepada kalian, segala sesuatu yang akan datang.” (Yahya, 16 : 7-8; 12-13)

Kita tidak akan ragu-ragu sedikitpun bahwa kata Perikalutas dalam bahasa Latin yang dalam bahasa Inggrisnya Comforter atau Pembawa Kabar Gembira, bukanlah yang dimaksudkan Yesus Kristus, tetapi sebenarnya adalah Parakletos, yang berarti yang tersohor, atau yang mulia, atau yang agung, atau yang terkenal, atau termasyhur, atau ternama, yang cocok sekali dengan pengertian dari nama Ahmad atau Muhammad dalam bahasa Arab. Sir William Muir mengatakan bahwa kata Ahmad “haruslah ditujukan kepada seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, sebagai terjemahan atas kata Perikalutas dari versi bahasa Arab dalam Perjanjian Baru,”
dan bahwa Parakletos (yang termasyhur) untuk mengganti Perikalutas
dipalsukan dengan beberapa sebutan rahib di jaman Muhammad.” (Muir, Life of Mohamet).

Sehubungan dengan nama Ahmad, Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan:
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel,
sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab
(yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Al-Qur’an Surat Ash-Shaf ayat 6)

Adalah mudah sekali diketahui dan merupakan fakta sejak dari awal periode, seorang yang sangat diharapkan oleh orang-orang Kristen, yang begitu besar jumlahnya tentang masalah kenabian, yang menunjukkan bahwa susunan yang diletakkan melalui pesan-pesan dalam gereja-gereja Romawi dan oleh orang-orang Protestan, tidak begitu umum dan mudah diterima. Dalam hal ini, Montanus, pada abad kedelapan, lebih dulu daripada Tertullian memberikan sebuah contoh perbuatan, sebagaimana yang dipertimbangkan oleh ummatnya,
mungkin ia adalah orang yang dijanjikan.

Masalah kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menurut Injil Barnabas.

Di sini saya ingin sekali menunjukkan kepada para pembaca, para kaum
muslimin, bahwa orang-orang Kristen tidak mengakui adanya Injil Barnabas sebagai bagian tak terpisahkan dari Perjanjian Baru, dan tidak pernah disebut-sebut dalam kegiatan mereka di gereja-gereja. Injil Barnabas ini telah dinyatakan salah dan dikutuk oleh Jemaah Kristen sejak 300 tahun sebelum datangnya Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Alasan yang paling menyolok, yang tidak kita ragukan lagi adalah karena di dalam Injil Barnabas ini dinyatakan
secara jelas dalam kata-kata dan kalimatnya tentang akan datangnya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam .

“Kemudian”, kata Pendeta, “bagaimana Pembawa Berita Gembira itu akan diberi panggilan dan bagaimana tanda-tanda akan kedatangannya?” Jesus menjawab: “Nama dari Pembawa Berita Gembira itu adalah Menakjubkan; nama itu langsung diberikan sendiri oleh Tuhan ketika Ia menciptakan ruhnya, dan menempatkannya di dalam surga yang penuh keindahan. Tuhan berkata: Tunggulah Muhammad, untuk sementara. Aku akan menciptakan Surga, dunia;
dan sejumlah besar mahluk yang hadir pertamakali, yang akan memberimu selamat, akan diselamatkan dan mereka yang akan mengutukmu, akan dikutuk.

Bilamana Aku datangkan engkau ke dunia, Aku akan datangkan kamu selaku Penyampai keselamatan bertutur kata tentang kebenaran, yang katamu akan selalu benar, sehingga bumi dan surga akan meninggalkannya, tetapi keimanan mereka tidak akan pernah meninggalkan mereka.” Muhammad adalah yang memperoleh rahmat atas namanya. Kemudian orang-orang yang berkerumun disekitarnya mengeluarkan suara dan berkata: “Oh,
Tuhan, datangkan kepada kami Penyampai itu. Oh, Muhammad, datanglah segera untuk keselamatan dunia. (Dari Injil Barnabas, diedit dan diterjemahkan dari naskah orang-orang Italia di
Perpustakaan Kekaisaran di kota Vienna oleh Lonsdale dan Laura Ragg, Oxford,1907),

Itulah dia Jesus sebagai Nabi terakhir yang menyatakan akan datangnya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam . sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Jesus tersebut, Al Qur’an menyatakan:

Artinya:
“Dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah), yang besar bagi semesta alam”. (Al-Qur’an Surat Al-Anbiya: 91)

Kemudian firman Allah dalam ayat yang lain:
Artinya:
“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Al-Qur’an Surat Al Maaidah:3)

Masalah Kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menurut Kitab suci agama Budha

Saya ingin mengingatkan para pembaca bahwa Kitab Suci Agama Budha telah ditulis lebih dari satu macam bahasa, sehingga saya telah memilih intisari terjemahan dari sumber Sri Langka.

“Ananda berkata kepada Yang Dimuliakan: “Siapakah yang akan memberi’ pelajaran kepada kami jika tuan sudah pergi?”
Yang Dimuliakan menjawab: Aku ini bukanlah satu-satunya Budha yang datang ke dunia, juga bukanlah aku yang terakhir, Nanti pada saatnya akan datang Budha yang lain ke dunia ini, yang suci, yang unggul dan cemerlang, yang menampakkan kebijaksanaan dalam tingkah lakunya, yang memberikan harapan, yang tahu tentang alam, seorang yang tiada bandingannya dalam memimpin, seorang yang memiliki sifat-sifat malaikat dan yang mesti mati, Dia akan menyelamatkan kamu kepada keimanan yang sama kekal sebagaimana
apa yang telah kuajarkan kepadamu, Dia akan berkhutbah tentang agamanya, yang mulia pada awalnya yang mulia pada puncaknya, dan mulia dalam tujuannya. Dia akan menyatakan tentang agama kehidupan, yang kesemuanya asli dan sempurna, sebagaimana yang baru saja saya nyatakan. Pengikutnya akan sebanyak jutaan, sedangkan pengikutku hanya ratusan ribu.”
Ananda berkata: “Bagaimana kami bisa mengetahui dia?” Yang Dimuliakan menjawab: “Dia akan terkenal sebagai Maitreya… “
Kutipan di atas kelihatannya kontroversil. Sebagaimana yang pembaca lihat, bahwa Budha meramalkan akan datangnya seorang Yang Dimuliakan, dan dalam bahasa Kitab Suci Agama Budha yang disebut dengan Maitreya berarti seorang yang pengasih dan yang dimuliakan.

Setelah meninggalnya sang Budha, para pengikutnya mencoba mencari siapa sebenarnya yang akan muncul sebagai seorang pemimpin dan sebagai Maitreya. Orang-orang Kristen juga telah mencari dan menyatakan Jesus sebagai Maitreya , Orang-orang Hindu-pun berbuat serupa.

Seseorang yang mempelajari semuanya itu, nantinya akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa tidak ada lainnya yang disebut Maitreya itu adalah Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai satu-satunya Maitreya . Kitab Suci Al-Qur’an berulang-ulang menyebut Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai seorang pembawa rahmat ke seluruh alam dan kepada semua bangsa, sebagaimana saya sebutkan di muka, sebagai terjemahan dan yang
dimaksud dengan Maitreya.

Artinya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam.” (Al-Qur’an Surat Al-Anbiya: 107)

Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri telah berkata: “Tidaklah aku diutus untuk mengutuk, melainkan sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan sebagai pembawa rahmat. “
Jika pembaca tertarik untuk mendapatkan informasi lebih terperinci, dapat menemukannya dalam buku Muhammad in Parsi, Hindoo and Budhist Scriptures, oleh A. Vidyarathi dan U. ‘Ali, diterbitkan oleh Abbas Manzil Library, Allahabad , 3, India .

Masalah Kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menurut Kitab Suci Agama Hindhu

Di dalam Kitab Suci Agama Hindu, banyak juga ditemukan secara jelas tentang masalah kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Beberapa diantaranya tercantum dalam Puranas. Yang tercantum dalam Bhavishya Purana adalah yang paling jelas daripada yang lainnya. Lima kata dari kiri ke kanan adalah sebuah nama dari Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Hal itu dinyatakan sebagai seorang Nabi dari sebuah wilayah, yang namanya Marusthalnivasinan, yaitu daerah padang pasir di semenanjung Arab. Arya Samay, sebuah sekte dalam agama Hindu, telah mencoba untuk tidak meragukan lagi tentang kebenaran dari sang Purana ini. Alasannya ialah bahwa
yang disebutkan itu tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Nabi.

Menurut
Sanatanist Pandits, kumpulan naskah Hindu, tidak diragukan lagi sebagai yang benar-benar autentik.
Pernyataan tentang kenabian tersebut adalah sebagai berikut:

Terjemahannya:
“ Lalu seorang yang buta huruf dengan nama kehormatan Guru, yang bernama Muhammad, setia sekali terhadap pengikutnya. Raja (Bhoja dalam sebuah pemandangan), kepada siapa Dewa Besar, penduduk Arab, mensucikan diri dengan air Gangga, dan dengan lima hal dari gembala lembu menyampaikan sandal kayu dan berada untuknya. Oh, penduduk Arabia dan Tuhan dari yang Suci, kepada siapa aku memuja. Oh, kepada siapa yang telah menemukan banyak jalan dan cara umuk menghancurkan syaitan di muka bumi ini. Oh, yang
benar-benar buta huruf dari kumpulan orang yang buta huruf. Oh, orang yang tidak berdosa, semangat keimanan dan yang sempurna kebaikannya, yang menjadi pujaanku. Terimalah aku pada telapak kakimu. (Bhavishya Purana Parv3, Khand 3, Adhya 3, Shalok 5-8).

Satu lagi lainnya :

Terjemahan:
“Oh, orang-orang, dengarkan ini baik-baik. Orang yang terpuji (Muhammad) akan datang di antara kamu. Kita letakkan para pendatang di tempat penampungan dari enam puluh ribu dan sembilan puluh musuh yang bertekuk lutut bersama dua puluh unta yang menempatkan posisinya menyentuh surga dari sedikit dibawahnya. Dia memberi Mamah Rishi ratusan keping emas, puluhan bola putar, tiga ratus kuda Arab, dan sepuluh ribu lembu. (Atharva Veda. Kanda 20,Sukta 127, Mantra 1-3).

Masalah Kenabian Dalam Kitab Suci Parsi

Agama Parsi adalah salah satu agama yang tertua di dunia, setua atau mungkin lebih tua dari agama Hindu. Ada dua kumpulan Kitab Suci yaitu Dasatir dan Zand Avestra, yang mungkin bisa disebut sebagai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bagi agama Parsi. Di Dasatir , no. 14, dihubungkan dengan nama Sasanll, bukan hanya sebuah pembenaran terhadap Doktrin dan Ajaran Islam, melainkan
penjelasan atas kenabian dan kedatangan Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Masalah kenabian ini dinyatakan dalam susunan kalimat yang paling jelas dan didahului oleh pemandangan tentang kebejatan dan keruntuhan moral di Persia.

Inilah ayatnya :

Terjemahannya:
“Ketika bangsa Persia tenggelam ke dalam suasana moral yang rendah, seorang manusia akan dilahirkan di Arabia, yang diikuti dengan runtuhnya singgasana agama dan semuanya yang ada sebelumnya. Kejayaan dan kemegahan Persia akan diungguli. Rumahnya telah berdiri (dalam hal ini yang dimaksud adalah
Ka’bah yang pada awal mulanya didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s.) dan semuapujaan yang ada akan tergeser olehnya, dan orang-orang akan bersembahyangmenghadapnya. Pengikutnya akan menaklukkan kota Parsis dan Taus dan Balakh dan tempat-tempat besar di sekitarnya. Orang-orang akan bertikai satu sama lain. Orang-orang Persia yang bijaksana dan lainnya akan bergabung dengan pengikutnya.

Masalah kenabian Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini tercantum dalam sebuah buku yang tetap berada dalam penjagaan yang ketat di Paris, dan katakatanya tidak dapat dijabarkan dalam dua interpretasi. Orang yang akan datang adalah seorang Arab. Orang-orang Persia akan bergabung dengannya dalam iman.

Candi-candi dewa api akan dihancurkan. Pujaan akan berganti. Orang-orangakan bersembahyang dengan menghadap Ka’bah. Dapatkah masalah kenabianyang sudah dinyatakan tersebut menyangkut orang lain selain MuhammadSallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Orang-orang Islam yang memiliki sedikit pengetahuan atau tidak sama sekalitentang agama lain mungkin akan tercengang setelah menemukan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah dinyatakan kedatangannya dalam Kitab Suci ajaran Hindu, Parsi, dan Budha, sekalipun kenyataan menunjukkan bahwa para pengikutnya menyembah lembu, matahari, api, alam dan tempat-tempat
pemujaan. Tetapi orang-orang Muslim harus ingat bahwa di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Allah telah berfirman bahwa setiap bangsa memiliki Nabi masing-masing.

Oleh karena itu makanya, Kitab Suci mereka yang asli merupakan wujud inspirasi dari Tuhan. Saya berikan di sini tiga ayat Kitab Suci Al-Qur’an yang menyatakan dalam hal ini.

Artinya:
“ Dan tidak ada suatu ummatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan” (Al-Qur’an Surat Faathir:24)

Artinya:
“ Tiap-tiap umat mempunyai Rasul”. (Al-Qur’an Surat Yunus:47)

Artinya:
“ Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami
kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidakKami kisahkan tentang mereka kepadamu. (Al-Qur’an Surat An Nisa:164)

Menurut sebuah Hadits, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata bahwa ada Nabi sejumlah 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) orang yang telah diutus sebelum beliau, dan seorang Muslim menghargai mereka sama tinggi dan tidak membedakan satupun di antara mereka (walaupun demikian jumlah Nabi yang pasti tidak diketahui).

Jadi, sebaliknya, Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa keimanan dari seluruh Nabi-nabi dari berbagai bangsa di dunia ini merupakan bagian dari keimanan Islam, sehingga Kitab-kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi-nabi sebelumnya ditemukan secara gamblang tentang akan datangnya Nabi terakhir, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam .
Saling membenarkan dan menguatkan ini merupakan bukti besar atas
kebesaran Tuhan dan tindakan Yang Maha Kuasa atas kehidupan manusia, mempertebal keimanan pada agamanya secara umum, terutama agama Islam.

Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Dalam Hadits

Dalam bukti autentik, buku-buku Hadits Shahih Bukhari, Tirmidzi dalam Shamail. Ibnu Hanbal dalam Musnad dan shahih Muslim – kita bisa menemukan beberapa gambaran yang mentakjubkan tentang Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam .

Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Bila beliau berjalan sendirian, orang mengatakan perawakannya pendek dan bila berjalan dengan orang lain, kelihatannya lebih tinggi dari yang lain. Beliau bersabda bahwa yang terbaik adalah tinggi yang sedang-sedang saja.
Rupa beliau berwarna putih tanpa ada warna kekuning-kuningan atau terlalu putih – yaitu warna yang asli putih, bebas dari campuran tambahan warna kuning, merah atau warna yang lain.

Beberapa diantaranya menggambarkan bahwa wajah beliau seperti berwarna kemerah-merahan dan agar tetap begitu dinyatakan bahwa pada bagian yang terkena sinar matahari, seperti mukanya, leher dan telinganya kelihatan kemerah-merahan, sedangkan bagian yang tertutup oleh pakaiannya asli berwarna putih.

Rambutnya ikal dan tidak terurai langsung kebawah, tapi juga tidak tebal. Bila beliau menyisir rambutnya yang ikal, kelihatannya berombak. Mereka menyatakan bahwa rambut beliau mengalir kebawah sampai bahu, sering dalam keadaan menyinggung cuping telinganya. Kadang-kadang membagi rambutnya menjadi dua ikalan, masing-masing berada di sisi telinganya. Pada kesempatan yang lain beliau menyisir rambutnya di atas telinga, sehingga lehernya terlihat
terbuka. Muka beliau lebih cantik dari siapa saja, yang digambarkan seperti bulan dalam keadaan purnama penuh. Disebabkan oleh kulit beliau yang indah, marah dan sukacita beliau dapat dikenali atau dibedakan dari wajah beliau. Dan orang-orang menyatakan tentang beliau bahwa sebagaimana yang digambarkan oleh sahabat Abu Bakar adalah sebagai berikut:

Seperti tidak ada bayangan kegelapan dalam malam hari yang disinari bulan, sehingga Mustafa yang berniat baik kelihatan bercahaya. Mustafa adalah salah satu sebutan atau nama kehormatan yang diberikan oleh kaum Mushmin kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. yang artinya “orang yang terpilh”).

Wajah beliau lebar dan alisnya penuh dan tipis. Di antara alisnya terdapat kilau sutera. Mata beliau besar dan terbuka; dalam dan gelap, dengan sebuah warna kemerah-merahan. Bulu mata beliau panjang dan begitu tipis sehingga hanya terlihat bila langsung berjumpa dengan beliau. Hidung beliau miring kebawah, dalam bentuk yang indah, gigi beliau memiliki ruang pemisah yang sempit dan bercahaya. Bibir beliau bagus dan menarik.

Pipinya tidak lunak, tetapi padat. Wajahnya tidak panjang dan tidak bulat, tetapi agak bulat. Janggutnya tebal. Kumisnya digunting rapi. Leher beliau lebih cantik dari pada orang lain, tidak panjang dan tidak pendek. Sebagian dari padanya terkena sinar matahari dan udara sehingga kelihatan warna perak kemasan. Jika memalingkan mukanya, beliau memutar dengan seluruh badannya.

Dadanya lebar, dan tidak ada baagian dada yang lebih bagus daripada bagian dada yang lain. Permukaannya rata dan halus. Dari rongga dada hingga pusat terdapat garis rambut yang tipis dan tidak ada rambut disekitarnya. Kedua bahunya lebar dan ketebalannya dibantu oleh rambutnya. Bahunya, persendiannya dan tangannya tertutup daging. Punggungnya lebar dan agak dekat ke bahu kanannya ada sebuah tanda seperti setempel atau cap dan di situ ada tahi lalat hitam, kadang-kadang kekuning-kuningan, disekelilingnya ada rambut yang tebal.

Kedua lengan dan tangannya berdaging, pergelangan tangannya panjang dan telapak tangannya lebar. Tangan dan kakinya lebar dan luas. Jari-jari dan ruas jarinya seperti perak. Telapak tangannya halus/lunak, bahkan seperti beludru dan terisi minyak wangi, seperti telapak tangan yang basah oleh minyak wangi. Pahanya dan betisnya berdaging. Badannya sedang-sedang saja tapi gemuk dan kuat, bahkan sampai hari tuanya masih tetap kelihatan otot dan urat-uratnya, seolah-olah lahir dan muda kembali. Gaya jalannya mantap, langkah-langkahnya meyakinkan. Ketika berjalan badannya condong ke depan dan memelihara langkahnya sama-sama dekat.

Wajahnya kelihatan halus dan menampilkan sabar serta termenung. Tertawanya jarang sekali lebih daripada tersenyum. Kebiasaannya begitu sederhana, walaupun beliau dianugerahi perhatian yang besar atas dirinya. Makan dan minumnya, pakaian dan perlengkapannya tetap saja, bahkan bila sampai pada puncak kekuatannya seperti bentuk alamiah seorang primitif. Beliau memperhatikan hampir seluruh bagian tangannya, yang sangat tinggi nilainya, dan sepasang sepatu tinggi warna kuning, sebuah hadiah dari Negus, Abessinia. Bagaimanapun juga, wangi-wangian, beliau senangi dan keinginan sekali, yang menjadikan peka sekali baunya. Beliau membenci alkohol. Beliau telah mendapatkan pemberian berupa kemampuan untuk melakukan imajinasi, meningginya fikiran, kehalusan dan kebersihan perasaan. Beliau lebih rendah hati daripada seorang gadis yang berada di belakang tirai. Beliau suka memberi hati kepada pihak yang lemah, dan tidak akan pernah membiarkan mereka sedikitpun untuk dicaci maki, apapun yang telah mereka kerjakan.

Anas, pembantunya, menyatakan tentang Nabi, “Sepuluh tahun saya bersama Nabi, belum pernah sekalipun beliau berkata – uh – Kepadaku.” Beliau sangat penuh kasih sayang terhadap keluarganya. Salah satu puteranya meninggai dunia di pangkuannya dalam sebuah rumah yang berasap dari perawatnya, seorang isteri tukang besi. Beliau sangat mencintai anak-anak, dan akan menghentikan mereka bila bertemu di tengah jalan, serta mengelus-elus kepalanya. Beliau tidak pernah memukul orang selama hidupnya. Kata-kata yang paling kurang baik yang pernah diucapkannya dalam suatu percakapan adalah:

“Apa yang terjadi dengan dia? Mungkin mukanya menjadi gelap dengan lumpur.” Ketika diminta seseorang untuk mengutuk ia menjawab “Saya tidak diutus untuk mengutuk, tetapi sebagai pembawa rahmat kepada seluruh alam semesta.”

Beliau menjenguk yang sakit, mengikuti berbagai usungan mayat, yang beliau temui, menerima undangan makan malam budak belian sekalipun, memperbaiki sendiri pakaiannya yang rusak, memeras air susu kambing, sabar menunggu walaupun untuk keperluan dirinya sendiri. Beliau tidak pernah sebagai pihak yang pertama kali menarik tangannya ketika berjabatan tangan dengan orang lain, dan tidak membalik sebelum orang lain membalikkan dirinya.

Beliau adalah seorang pelindung yang sangat bisa dipercaya, yang paling manis dan dapat diterima setiap percakapannya. Mereka yang melihatnya tiba-tiba akan merasa hormat dan memujinya, sehingga barang siapa yang berhubungan dengannya akan cinta; dan siapa yang menggambarkan tentangnya akan berkata: “Saya tidak pernah melihat yang seperti ini.”
Beliau adalah seorang yang sangat pendiam, tetapi bila berbicara akan terlihat beberapa tekanan suara yang penting dan penuh pertimbangan, dan tidak seorangpun akan melupakan apa yang dikatakannya. Nabi akan berkata bahwa beliau lebih dari seperti Nabi Adam a.s. daripada orang yang lain, dimana moral dan pembawaannya mirip sekali dengan sesepuhnya, Nabi Ibrahim a.s.
Pada hari di mana Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperoleh kemenangan yang besar atas musuh-musuhnya, juga merupakan hari yang terbesar bagi kemenangan atas dirinya sendiri.
Secara bebas beliau telah memaafkan orang-orang Quraisy yang telah
menyusahkannya dan menganiaya dengan penuh penghinaan dan yang telah membuat beliau sedih, dan memberikan pengampunan kepada seluruh penduduk Makkah.

Hanya ada empat tindakan kriminil yang diadili dan dihukum oleh Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi mereka yang terdaftar perbuatannya ketika memasuki kota Makkah sebagai penakluk atas semua musuh-musuhnya yang telah pernah berbuat yang terpahit baginya. Angkatan Darat yang mengikuti contoh yang beliau berikan memasuki Makkah dengan tenang dan penuh rasa perdamaian, tidak ada rumah yang dirampok, tidak ada wanita yang dihina.

Hanya satu saja yang mendapatkan penghancuran. Ketika mendekati Ka’bah, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di sebelah tigaratus enampuluh patung pujaan, dan dengan menunjuk mereka bersama pembantunya, beliau mengatakan: “Kebenaran telah datang dan hal-hal yang batal akan musnah”, dan atas kata-katanya itu maka para pengikutnya memotong dan menghancurkan patung-patung itu. Seluruh patung pujaan itu sebagai tuhan yang mereka puja di dalam kota Makkah dan sekitarnya dihancur-leburkan.
Itulah saat di mana Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki kotanya sebagai kota yang bersih dan seolah-olah lahir kembali. Dari sejarah penaklukan, tidak ada satupun bandingannya sebagai pihak yang menang, memasuki wilayah yang ditaklukkannya bertingkah baik seperti itu.

(di sadur dari buku DR. Ali Akbar, ISRAEL AND THE PROPHECIES OF THE HOLY QUR’AN BAB I; Penerjemah; Lukman Saksono, Ph.D)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: