Rahasia Yahudi (Zionis) Sebagai Teroris Internasional (1)

Apabila Osama bin Laden adalah pelaku di balik serangan yang menyebabkan kematian ribuan warga Amerika pada 11 September, maka saya seperti sebagian besar warga Amerika menghendakinya menjalani hukuman mati atas kejahatan yang dilakukannya. Tidak satupun orang atau bangsa yang melakukan kegiatan terorisme atas negara Amerika akan terhindari dari tindakan penghukuman.

Akan tetapi sekarang saya akan membuat sebuah pernyataan dimana dapat membuat Anda shock mendalam. Apabila Anda setuju bahwa mereka yang melakukan tindak terorisme terhadap Amerika harus dihukum, maka Amerika harus menempatkan Israel di posisi teratas dari daftar target itu karena pada artikel ini saya akan membuktikan Israel telah melakukan tindakan terorisme dan subversi secara sadar atas rakyat Amerika.

Tindakan terorisme dan subversi Israel terhadap Amerika tidak hanya berlangsung tanpa penghukuman tetapi juga dipuji oleh para politisi yang telah mengkhianati bangsa Amerika.

Saya akan mengungkapkan data dan informasi bahwa Israel telah melakukan kegiatan terorisme jauh lebih terus menerus pada setengah abad terakhir daripada bangsa-bangsa lainnya di atas bumi ini. Kemudian, saya akan mengungkapkan tindakan terorisme dan suberversi Israel terhadap Amerika Serikat. Pada akhirnya saya akan membuka fakta yang membuat shock dimana membuktikan Israal secara sengaja berupaya menimbulkan kematian kepada warga Amerika pada tanggal 11 September 2001.

Mengapa Amerika Diserang?
Tidak seorangpun akan berbeda pendapat bahwa apapun motivasinya, bila bin Laden berada di balik horor serangan WTC, maka dia pantas dihukum untuk pembunuhan begitu banyak warga sipil. Pada waktu bersamaan, kita begitu tahu mengapa bin Laden dan jutaan orang lainnya di seluruh dunia begitu membenci Amerika. Mengapa begitu banyak orang yang ingin mengambil resiko atau bahkan mengorbankan jiwanya untuk menyerang kita? Saya sangat berharap tidak satupun akan membaca fenomena ini begitu naïf dengan meyakini tumbuhnya jutaan orang yang membenci Amerika karena kita adalah “masyarakat bebas”. Berbagai bentuk rumor harus merupakan pengertian yang paling jelek yang dijual kepada rakyat Amerika sejak demam musik melanda Amerika.

Untuk mengakhiri ancaman terorisme terhadap rakyat Amerika, maka kita harus mengetahui alasan yang sebenarnya mengapa kita begitu dibenci. Teknologi modern membuat pembunuhan massal dan tindakan terorisme begitu mudah dilakukan sehingga setiap orang dapat melakukannya. Hal ini tidak dapat dihentikan dengan kekuatan militer. Bahkan dengan kekuatan yang dahsyat yang kita gunakan di Afghanistan dengan tujuan untuk menumpas teror – sudah menunjukkan tanda-tanda berkobarnya kebencian di seluruh dunia terhadap Amerika untuk membangkitkan seribu anggota teroris baru untuk setiap satu teroris yang kita dapat bunuh.

Saya juga bertanya seberapa besar rasio pembunuhan di Afghanistan itu. Apakah satu anggota dari jaringan al-Qaida dibunuh untuk setiap 10 tentara dan warga sipil Afghanistan yang berusaha melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka seperti kita. Atau apakah 1 orang teroris untuk 100 orang Afghanistan. Saya curiga angka riil bahkan lebih besar, seperti 100 kematian non-teroris untuk nyawa 1 teroris sebenarnya yang bahkan dapat mengusik eksistensi Amerika.

Agaknya kita seharusnya mempunyai cukup keberanian untuk mempertimbangkan berbagai alasan yang mungkin mengapa begitu banyak orang membenci kita. Hanya bila kita punya seluruh fakta yang ada, kenyataan ini agaknya lebih dari pernyataan klise seperti “Mereka sedang menyerang kebebasan,” maka kita dapat memutuskan cara terbaik yang kita dapat lakukan untuk melindungi rakyat Amerika di masa depan.

Oleh karena itu, bagaimana kita mendefinisikan suatu “serangan atas kebebasan Amerika?” Saya dapat katakan “serangan yang sebenarnya atas kebebasan” adalah meruntuhkan Bill of Rights dan Konstitusi Amerika Serikat. Ten Amendments adalah inti kebebasan Amerika sebenarnya. George Bush dan Kongres Amerika Serikat dengan corong baru Amerika UU Patriot Act, secara tidak terbatas telah mencabut kebebasan Konstitusi daripada yang dapat lakukan oleh bin Laden.

Alasan Riil Kita Mengalami Tindakan Terorisme
Alasan riil kita mengalami tindakan terorisme dengan serangan atas WTC sangatlah sederhana.

Terlalu banyak politisi Amerika telah mengkhianati rakyat Amerika dengan sepenuh hati mendukung bangsa teroris utama di permukaan bumi ini: Israel.

Media massa dan pemerintah Amerika tidak dapat kedua-duanya. Apabila mereka termotivasi untuk menyerang Afghanistan karena memberikan bantuan dan wilayah bagi para teroris, maka sebagian rakyat Palestina sebenarnya mempunyai motivasi yang sama untuk menyerang Amerika karena memberikan bantuan dan bahkan dukungan militer atas Israel, sebuah bangsa yang telah melakukan tindakan terorisme yang terus menerus atas mereka.

Para pengkhianat bangsa Amerika Serikat telah memungkinkan sebuah bangsa asing teroris mengontrol Pemerintahan Amerika Serikat. Sebagian pembaca mungkin menganggap suatu yang tidak masuk akal saya menyatakan sebuah bangsa asing mengontrol bangsa Amerika. Tetapi, dengan mempertimbangkan fakta yang ada mantan Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat, William Fulbright, berkata tentang hal ini dengan tepat. Dia menegaskan di program televisi nasional ABC, Face the Nation bahwa “Israel Mengontrol Senat Amerika Serikat.” (1) Dan, Senator Fulbright bukanlah boneka dimana namanya diabadikan dalam program beasiswa “Fulbright” bagi para mahasiswa yang berotak brilian. Tidak hanya Senator Fulbright membuat tuduhan seperti ini, tetapi juga mantan Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, George Brown dan tokoh-tokoh lainnya menyatakan pada dasarnya hal yang sama.

Kita dapat katakan kita tidak mungkin percaya melihat Kongres begitu mendukung sebuah program Israel seperti ini. Dan mereka berkata jangan kuatir dengan Kongres. Kita akan urus Kongres ini. Kongres ini sosok dari negara lain. Tetapi mereka dapat melakukan hal ini. Mereka memiliki, seperti Anda ketahui, bank-bank di negara ini, surat kabar. Coba lihat dimana uang bangsa Yahudi itu. — (2) (Jenderal George S. Brown, mantan Kepala Staf Gabungan)

Tentunya, Jenderal Brown agaknya meremehkan kontrol Yahudi atas media massa Amerika. Yang benar mereka mengontrol surat kabar yang paling berpengaruh di Amerika Serikat: The New York Times, the Washington Post dan the Wall Street Journal. Mereka juga memiliki tiga majalah berita utama Time, Newsweek dan U.S. News and World Report. Tetapi, bahkan lebih penting lagi, mereka secara keseluruhan mendominasi media televisi dan penyiaran Amerika, dua konglomerat terbesar – Time-Warner dan Disney, dan dominasi Yahudi mencakup jaringan eksekutif berita di tiga jaringan utama: ABC, CBS dan NBC. Kontrol media oleh partisan pro-Israel adalah subjek lain; tetapi apabila akan melihat data yang lebih lengkap, harap lihat situs saya http://www.davidduke.com/ dan lihat bab dari My Awakening dengan judul “Who Runs the Media.” Sikap media massa pro-Israel yang sangat berat sebelah adalah mengapa sebagian besar rakyat Amerika begitu mengabaikan catatan tindakan teroris Israel. Yang harus dilakukan oleh artikel ini adalah menusukkan peniti di balon propaganda Israel karena hal ini akan tepat menghantam jatuh balon kebohongan di sekitar propaganda Israel.

Saya akan memperlihatkan kepada Anda bukti bahwa selama 50 tahun terakhir Israel telah melakukan lebih banyak tindak terorisme pembunuhan daripada bangsa-bangsa lainnya di atas permukaan dunia ini; dan dengan mendukung perilaku kriminal Israel, Amerika sekarang ini menanggung kebencian fanatik ratusan juta orang di seluruh permukaan bumi ini. Dukungan atas terorisme Israel secara langsung mengarah kepada tindakan terorisme yang sekarang ini terjadi terhadap bangsa Amerika Serikat. Sebagian besar rakyat Amerika bahkan tidak menyadari besar dan luas tindakan terorisme Israel karena kontrol media massa Yahudi yang disebutkan oleh Jenderal Brown. Sebuah contoh kekuatan media massa Yahudi itu adalah kemampuan untuk membuat propaganda Kebohongan Besar (Big Lie) bahwa serangan atas WTC sama sekali tidak berkaitan dengan Israel; para penyerang kamikaze dan rakyat Amerika yang diserang karena bangsa Amerika adalah “bangsa yang memperjuangkan kebebasan”.

Kebohongan Besar
Media massa Amerika yang didominasi Yahudi dan para politisi yang dikontrol Israel tidak menghendaki bangsa Amerika untuk sepenuhnya menyadari harga yang begitu mahal yang harus dibayar oleh bangsas Amerika karena dukungan membabi buta kepada Israel. Setelah serangan pada 11 September 2001, bahkan Presiden Bush berulang-ulang menyatakan kebohongan yang absurd ini dengan menuduh serangan WTC itu karena mereka membenci fakta bahwa bangsa Amerika adalah bangsa yang memperjuangkan kebebasan. Apabila, seperti yang media katakan, bin Laden berada di balik tindakan terorisme ini, maka mereka tahu serangan ini terjadi bukan karena dia membenci kebebasan. Hanya tiga tahun lalu, televisi ABC dan PBS Frontline mewawancarai bin Laden selama masa pemerintahan Clinton. Bin Laden dengan tegas menyatakan mengapa dia menentang Amerika:

Mereka (bangsa Amerika) menyerahkan dirinya kepada belas kasihan sebuah pemerintahan yang tidak loyal . . . Israel berada di dalam tubuh bangsa Amerika. Dengan mengambil kursi berbagai kementerian yang sensitif, seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan dan CIA, Anda dapat lihat bahwa bangsa Yahudi mempunyai kekuatan kontrol yang kuat atas bangsa ini. Mereka mempergunakan Amerika untuk melanjutkan rencana-rencana mereka di atas dunia ini …”

Selama lebih dari setengah abad, umat Muslim di Palestina telah (oleh bangsa Yahudi) dibantai, diserang dan dirampok kehormatan dan harta bendanya. Rumah-rumah mereka telah diledakkan, hasil pertanian mereka dihancurkan . . . Inilah pesan saya kepada bangsa Amerika: mencari sebuah pemerintah yang serius dimana menyikapi dengan hati-hati kepentingan bangsa ini dan tidak menyerang tanah air atau kehormatan rakyat bangsa lainnya …”(3))

Walaupun dengan tuduhan kejahatan atas dirinya, bin Laden dalam seluruh hidupnya tidak pernah mengucapkan kata menentang Demokrasi! Media massa Yahudi menciptakan kebohongan tentang penyerangan atas Demokrasi untuk menyembunyikan kebenaran riil; bahwa bangsa Amerika sedang diserang sebagai balasan atas dukungan pemerintah Amerika atas berbagai kebijakan teroris Israel di Timur Tengah. Kebulatan suara media massa dalam mempropagandakan kebohongan besar ini tanpa perlawanan seharusnya membuat setiap orang yang berpikir curiga bahwa bangsa Amerika tidak mendpatkan seluruh kebenaran dari media massa yang ada.

Pertama, kita akan membahas tindakan terorisme Israel atas bangsa Palestina.

Israel: Pelaku Pembunuhan Massal sebagai Kepala Negara
PM Israel, Ariel Sharon, adalah salah seorang teroris berdarah dingin di dunia ini. Dia bertanggungjawab atas pembantaian berdarah dingin atas 1500 pria, wanita dan anak-anak di kamp-kamp pengungsi di Beirut, Chatila dan Sabra. Bahkan sebuah komisi resmi Israel menemukan Sharon secara pribadi bertanggungjawab atas pembunuhan massal di Lebanon. (4)

Pada tahun 1982, sebagai menteri pertahanan Israel, Sharon memimpin invasi ke Lebanon dan melakukan pemboman dan penghancuran kota Beirut (Di Lebanon lima kali lebih banyak wanita dan anak-anak meninggal daripada dalam serangan September di New York). Pemboman teror ini dilakukan oleh bangsa Yahudi dengan mempergunakan pesawat tempur dan bom-bom yang disuplai oleh Amerika Serikat.

Setelah penghancuran dan pendudukan militer Israel, Sharon secara paksa mengusir para pejuang perlawanan Palestina dari Lebanon. Banyak wanita, anak-anak dan orang lanjut usia ditinggalkan di kamp-kamp pengungsi dekat Beirut. Amerika Serikat secara terbuka menjamin keselamatan mereka dan berjanji mereka secepatnya akan disatukan kembali dengan orang-orang yang dicintainya. Ketika Sharon memplot pembunuhan atas mereka, dia tidak hanya merencanakan tindakan terorisme berdarah atas para pengungsi ini; dia mengetahunya hal ini sebuah tindakan subversi terhadap Amerika Serikat yang akan menimbulkan kebencian yang mendalam terhadap bangsa Amerika.

Pada malam 16 September 1982, Sharon mengirim skuad pembunuh milisi Phalangist ke dalam dua kamp pengungsi Palestina, Sabra dan Shatila. Dengan tank-tank dan tentara Israel yang menutup seluruh kamp ini untuk mencegah warga Palestina dari upaya menyelamatkan diri, maka skuad pembunuh dengan senjata mesin, bayonet dan pemukul membantai rakyat Palestina sepanjang malam, hari berikutnya dan malam berikutnya; kemudian, ketika bangsa Israel yang mengelilingi kamp ini mendengar gembira tembakan senapan mesin dan jeritan yang datang dari dalam kamp-kamp itu. Kemudian, Sharon mengirim buldozer untuk menyembunyikan sebanyak mungkin kekejaman yang dapat dilakukannya. Sekurang-kurangnya 1500 pria, wanita dan anak-anak Palestina dibantai, dan mungkin sebanyak 2500 jiwa. (Sebuah investigasi resmi pemerintah Lebanon menyebutkan angka 2500 jiwa). Bahkan setelah upaya buldozer Sharon, banyak warga Palestina tidak terkuburkan dan para pekerja Palang Merah menemukan seluruh keluarga-keluarga itu, termasuk ratusan anak-anak dan orang lanjut usia, dengan leher terpotong atau keluar isi perutnya. Jumlah wanita dan anak gadis yang tidak terhitung jumlahnya diperkosa sebelum mereka dibantai.

Ariel Sharon dicari untuk diadili oleh Hague Tribunal, badan yang sama ini berhasil mengekstradisi mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic atas tuduhan berbagai kejahatan kemanusiaan di Kosovo. Sharon tidak akan pergi ke Belgia karena takut ditangkap oleh International Court for the massacre. (5)

Walaupun dia dicari karena pembunuhan massal di kamp pengungsi Sabra dan Chatila, tetapi Sharon dapat diadili oleh puluhan korban pembantaian lainnya yang dilakukan selama karir cemerlangnya, kejahatan terhadap kemanusiaan yang sekurang-kurangnya dapat ditarik hingga tahun 1953. Harian Israel, Ha’aretz, menyebutkan Sharon yang memimpin sebuah pembunuhan massal di desa Kibya pada tahun 1953, “Tentara Mayor Ariel Sharon membunuh 70 warga Palestina dalam serangan balasan dendam, sebagian besar mereka adalah anak-anak dan wanita “ (6)

America dimana menuntut kepada Hague Tribunal untuk menangkap dan mengadili Milosevic, berpura-pura tidak menyadari pembunuhan massal yang dilakukan Sharon. Dengan tidak mengeluarkan surat penahanan kepada Sharon karena pembunuhan massal dan menempatkannya dalam penjara yang sepantasnya dia jalani, sebaliknya Presiden Bush menyambut secara terbuka Ariel Sharon dengan jabatan tangan dan rangkulan! Bagaimana dunia harus mentertawakan keanehan ini bila Bush berunding dengan Sharon tentang “cara-cara memerangi terorisme.”

Apabila Presiden Bush benar-benar serius untuk menghukum bangsa-bangsa yang mendukung sarang teroris, maka dia harus memulainya dengan Israel, sebuah bangsa yang terpilih menjadi salah satu teroris dan pembunuh massal terburuk di dunia sebagai Kepala Negaranya. Apakah Senat Amerika yang dikontrol Amerika dapat menghukum Israel karena menjadi sarang teroris? Jawabnya, Tidak. Sebaliknya, kita mensuplai para teroris mereka dengan milyaran dolar uang wajib pajak Amerika dan senjata-senjata yang sangat canggih dengan itu mereka akan melakukan pembunuhan!

Pembunuhan massal Israel atas para pengungsi Palestina setelah Amerika Serikat secara terbuka menjamin keselamatannya tidak hanya suatu kejahatan atas kemanusiaan, tetapi juga salah satu tindakan subversi terhadap bangsa Amerika. Sharon dan orang-orang yang terlibat itu sepenuhnya menyadari janji yang diberikan secara terbuka oleh pemerintah Amerika atas keselamatan para pengungsi itu.

Pembunuhan Massal di Kamp Pengungsi Sabra dan Chatila di Beirut adakah motivasi utama serangan pemboman bunuh diri di Lebanon yang membunuh 241 Marinir Amerika di Beirut kurang dari setahun kemudian, dan hal ini dengan jelas bagaimana dukungan Amerika atas tindakan terorisme Israel menyebabkan konsekuensi yang pahit bagi Amerika Serikat. Harian The Los Angeles Times, dalam diskusi sebuah buku yang mengungkapkan misteri ini oleh seorang mantan agen badan intelijen Israel Mossad, mengungkapkan bahwa Mossad telah mengetahui terlebih dahulu serangan teroris itu atas barak-barak Marinir AS di Lebanon pada tahun 1983, tetapi secara subversi mereka tidak memperingatkan pihak Amerika. (7)

Di antara tuduhan yang lebih mengejutkan dari pernyataan Ostrovsky adalah Mossad tidak memberikan informasi kepada pihak Amerika data intelijen secara terinci yang dapat mencegah pembomanan bunuh diri tahun 1983 atas barak-barak Marinir di Beirut yang membunuh 241 marinir Amerika;…

Israel: Negara yang Didirikan dengan Teror atas Inggris dan Bangsa Palestina
Dalam upaya untuk mengambil alih kontrol atas tanah Palestina dari Inggris, para pendukung gerakan Zionis melakukan kampanye teror yang terus menerus, termasuk pemboman King Daving Hotel, dimana membunuh 93 orang. Mereka membunuh para pejabat dan tentara Inggris. Pendukung gerakan Zionis ini membunuh setiap orang yang menghalangi jalannya, termasuk mediator PBB, Count Folke Bernadotte, yang berani mengungkapkan kepada dunia tentang kampanye teror dan pembunuhan Zionis. Sebuah taktik favorit gang teroris Zionis, Irgun dan Stern, adalah menculik tentara Inggris dan secara perlahan-lahan menyiksa mereka hingga meninggal. Israel juga bangsa pertama yang mempergunakan teknik teroris modern, yaitu bom surat; dan selama bertahun-tahun mereka mengirimkan ratusan surat, membunuh puluhan musuhnya dan banyak pejalan kaki di seluruh dunia. Tindakan terorisme pengiriman surat yang terinfeksi Antrax hanyalah salah satu cara bom surat itu.

Teror Deir Yassin
Rakyat Palestina tentunya korban terbesar selama setengah abad teror Israel ini. Sebenarnya Israel merencanakan terornya dengan mengeluarkan rakyat Palestina melalui kebijakan teror massal. Dengan metode ini, Israel mengusir 800.000 di antara rakyat Palestina dari rumah, tempat usaha dan lahan pertanian mereka (9). Dalam bukunya, The Revolt (10), mantan PM Israel, Menachem Begin, membanggakan perannya dalam pembunuhan massal atas 254 rakyat Palestina di Deir Yassin. (Sebagian besar korban adalah orang lanjut usia, wanita dan anak-anak yang tinggal di desa yang diduduki Israel). Dalam bukunya itu, Begin menyatakan Deir Yassin dan pembunuhan massal lainnya menyebabkan kepanikan di antara penduduk Palestina, menyebabkan mereka melarikan diri karena teror terhadap rumah-rumah mereka. Teror massal yang direncanakan ini memungkinkan pendukung gerakan Zionis untuk mengambil kontrol atas tanah air Palestina. Juga perlu ditegaskan, para pengungsi masih tidak diizinkan untuk kembali ke rumah setelah lebih dari setengah abad!

Apa yang dilakukan para teroris Zionis ini di Deir Yassin dan di desa-desa lainnya yang menyebabkan rakyat Palestina melarikan diri? Seorang dokter Palang Merah, Jacques de Reynier, kepala wakil Komite Internasional Palang Merah di Jerusalem memberikan laporan yang mengejutkan tentang pembunuhan massal dalam laporan resminya. (11)

De Reynier tiba di desa ini pada hari kedua dan melihat “tindakan pembersihan oleh tentara,” karena salah seorang anggota teroris Israel memperlihatkan kepadanya. Pembunuhan massal ini dilakukan dengan senjata mesin, kemudian granat dan diakhiri dengan tubuh-tubuh korban disayat pisau. Bangsa Yahudi itu memenggal sebagian kepala korban dan secara fatal memotong anggota tubuh 52 anak di depan ibu-ibu mereka. Mereka merobek rahim-rahim 25 wanita hamil dan membantai bayi-bayi di depan ibu-ibu mereka.

Orang-orang Israel yang berada di Deir Yassin telah memperkuat fakta pembunuhan massal ini. Setelah pensiun tahun 1972, seorang perwira Haganah, Kolonel Meir Pa’el, menyatakan hal berikut ini tentang Deir Yassin di Yediot Ahronot, sebuah terbitan Yahudi yang terkemuka:

Para anggota Irgun dan LEHI keluar dari persembunyian dan mulai melakukan ‘pembersihan’ rumah-rumah warga Palestina. Mereka menembaki siapapun yang mereka lihat, termasuk wanita dan anak-anak, para komandan tidak berupaya menghentikan pembunuhan itu . . . mereka dibawa ke lubang pembantaian yang terletak di antara Deir Yassin dan Giv’at Shaul, kemudian dibunuh secara kejam … (12)

Komandan unit Haganah yang mengontrol wilayah Deir Yassin setelah pembantaian massal itu, Zvi Ankori, membuat pernyataan ini dalam harian Israel, Davar:

Saya memasuki enam hingga delapan rumah warga Palestina. Saya melihat alat kelamin yang dipotong dan perut-perut wanita Palestina yang dirobek-robek. Menurut tanda-tanda penembakan di tubuh-tubuh korban, hal ini adalah pembunuhan langsung. (13)

Pernahkah Anda melihat film dokumenter televisi atau film-film Hollywood tentang teror Israel di Deir Yassin atau ribuan tindakan teror Israel lainnya terhadap rakyat Palestina? Anda telah mendengar banyak cerita tentang korban-korban warga Yahudi oleh Hitler, tetapi pernahkah Anda mendengar suara wanita-wanita di Deir Yassin dimana bayi-bayi mereka dipotong dari rahim-rahim mereka oleh para pendukung Supremasi Kaum Yahudi? Pernahkah Anda mendengar suara-suara salah satu dari ribuan korban rakyat Palestina lainnya oleh Begin, Shamir, Barak dan Sharon? Sesuai dengan catatan panjang tindakan terorisme Israel terhadap rakyat Palestina, Israel mempunyai kebiasaan keji memilih dan mengangkat pelaku teror dan pelaku pembunuhan massal yang paling kejam sebagai Kepala Negaranya.

Amerika Serikat memiliki divisi Departemen Kehakiman yang mempunyai kemampuan untuk memburu orang-orang Nazi yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Ketika Amerika secara bersungguh-sungguh mengejar para tersangka pelaku kejahatan perang Jerman, presiden-presiden Amerika mengadakan jamuan malam kenegaraan untuk menghormati presiden-presiden bangsa Yahudi!

Mr. Bush begitu giat berbicara tentang pemberantasan para teroris jahat, tetapi bukan pembunuhan massal, seperti Deir Yassin yang terlihat gamblang sebagai sebuah tindakan kejahatan yang sempurna?

Seperti Begin ungkapkan dalam bukunya, The Revolt, teror terhadap bangsa Palestina merupakan sebuah faktor penting dalam pendirian negara Israel. Tindakan teror ini merupakan fondasi pendirian negara Yahudi dan sudah berlangsung selama setengah abad berbagai bentuk tindakan teror atas rakyat Palestina itu.

52 Tahun Teror Terhadap Rakyat Palestina
Sejak tahun 1948, rakyat Palestina menghadapi tindakan terorisme secara terus menerus dari pihak Israel. Ratusan perkampungan telah dihancurkan dan secara literal dihapuskan dari atas peta. Puluhan ribu rumah telah dibom, dibuldoser atau didinamit selama proses perdamaian! Puluhan ribu pria, wanita dan anak-anak telah dibunuh. Bahkan jumlah yang lebih banyak telah dibutakan, dibuat cacat, dibunuh dan dipotong anggota tubuhnya. Ratusan ribu telah dipenjarakan dan/atau disiksa.

Yang terjadi setelah gerakan perlawanan Palestina atas pendudukan Israel, Israel tidak pernah malu melakukan pemboman atas kamp-kamp pengungsi yang dipenuhi anak-anak dan wanita. Tank-tank, helikopter dan bahkan pesawat tempur Israel digunakan untuk menjatuhkan bom-bom atau menembakkan rudal ke dalam jantung pemukiman Palestina dan kamp-kamp pengungsi yang didiami wanita dan anak-anak. Senjata-senjata ini tidak dapat membedakan di antara orang yang diduga sebagai seorang teroris atau seorang anak kecil yang berusia delapan tahun. Sebuah senjata dapat membunuh seorang anak sama pastinya dengan membunuh musuh-musuh negara Israel itu.

Rakyat Palestina yang dicurigai secara aktif melakukan perlawanan atas pendudukan Israel di Tepi Barat atau Jalur Gaza, mendapatkan serangan dari laras-laras tank, rudal-rudal atau bom-bom Israel ke rumah-rumah dan keluarga-keluarga tersangka. Dan setelah tersangkanya dibunuh atau dipenjarakan, maka tentara Israel membuldozer atau mendinamit rumah-rumah keluarganya. Ribuan rumah telah dihancurkan dengan cara ini.

Israel juga telah membunuh ratusan pemimpin Palestina dengan pembunuhan dan serangan teroris. Berbagai serangan ini acapkali membunuh pejalan yang tidak berdosa yang berada di tempat kejadian. Banyak mereka yang dibunuh tidak pernah terkait dengan tindakan teror atau kekerasan apapun juga; mereka hanya pengarang, penulis atau ulama yang dengan kata-kata mereka telah menginspirasi rakyat Palestina untuk berjuang membebaskan bangsa dan negaranya. PM Israel sebelum Ariel Sharon adalah Ehud Barak. Pada tahun 1972, selama masa perdamaian antara Israel dan Lebanon, ia memimpin sebuah skuad pasukan komando pencabut nyawa ke kota Beirut, Lebanon dimana dia secara pribadi membunuh penulis Palestina Kamal Edwan. Di tengah malam itu, dengan mempergunakan senjata-senjata semi-mesin otomatis dengan peredam suara, dia dan timnya, membunuh Edwan ketika korban sedang tidur pulas. Ketika PM Israel yang baru terpilih, Ehud Barak, berkunjung ke New York dan Washington, media massa yang dikontrol Yahudi memperlakukan pembunuh ini, seolah-olah sebagai seorang pahlawan perang.

Kebijakan standar ganda ini agaknya tidak pernah berakhir. Ketika seorang pejabat kabinet Israel, Rechavam Zeevi, dibunuh warga Palestina pada bulan Oktober 2001, Sharon dan sejumlah pejabat Amerika Serikat menyatakan tindakan ini sebagai “terorisme.” Apabila penembakan Zeevi memang tindakan terorisme, maka apa yang seharusnya kita ingat bertahun-tahun tindakan pembunuhan Israel atas ratusan pemimpin politik, akademisi, ulama dan pengarang Palestina? Mengapa media massa tidak mengungkapkan bahwa Zeevi sendiri seorang pendukung Supremasi Bangsa Yahudi yang menyebut warga Palestina yang tinggal dan bekerja secara ilegal di Israel sebagai “kuman” dan “kanker di tengah-tengah bangsa Yahudi.(14)” Zeevi sendiri seorang teroris yang menyerukan pengusiran paksa seluruh warga Palestina dari wilayah pendudukan dan pembunuhan seluruh mereka yang menentang pendudukan Israel. Dia bahkan secara terbuka menyerukan pembunuhan Yassir Arafat. Namun, media massa yang sama yang menyebutkan pembunuhannya “terorisme” tidak pernah menyebutkan Zeevi pro-pembunuhan seorang teroris atau bahkan seorang pendukung Supremasi Bangsa Yahudi. Pembunuhan Zeevi sendiri merupakan respons langsung terhadap pembunuhan rejim Israel atas seorang pemimpin Palestina beberapa minggu sebelumnya.

Pada tahun 1991, di sebuah pertemuan kabinet Israel, Zeevi berkata bahwa Presiden George Bush, dengan menekan Israel untuk masuk dalam pembicaraan perdamaian, adalah “musuh Israel” dan “Amerika sedang memplot Holocaust Kedua bagi bangsa Yahudi.(15)” Dengan sebuah “negara sekutu seperti ini”, apakah Amerika harus menghadapi begitu banyak musuh-musuhnya?

Kekuatan bangsa Yahudi di media dunia telah menutup-nutupi ratusan teror dan pembantaian yang dilakukan oleh rejim Israel. Sebenarnya bahkan sebelum serangan teror WTC di bulan September, BBC menginstruksikan para reporternya untuk melaporkan pembantaian musuh-musuh Israel sebagai “target pembunuhan” daripada sebenanrya apa yang mereka lakukan: pembantaian. (16) Akan tetapi, BBC (seorang staf eksekutifnya pro-Yahudi) menyebutkan pembunuhan Zeevi sebagai pembantaian (assassination) dan bukan sebuah “target pembunuhan.” Fenomena Israel yang berkembang di masyarakat telah didistorsi oleh media massa selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, hanya segelintir orang Inggris dan bahkan lebih sedikit lagi orang Amerika menyadari catatan terorisme Israel. Oleh karena itu, saya tidak dapat mengutuk sebagian besar pemerintah Amerika atas pengabaian terorisme Israel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: