Rahasia Israel (Zionis) Sebagai Teroris Internasional (3)

Israel: Bangsa yang Memata-matai Amerika dan Menjual Informasi Rahasia Kita kepada Musuh-musuh Amerika Serikat
Pada tahun 1980-an, Israel merekrut seorang Yahudi Amerika, Jonathan Pollard, untuk memata-matai bangsa Amerika Serikat. Setelah Pollard ditahan, para pejabat Israel pertama-tama mengklaimnya sebagai “agen rahasia yang tidak dapat dipercaya,” tetapi kemudian mengakui Pollard itu bekerja untuk negara Israel sejak awal. Walaupun mata-mata Yahudi, Ethel dan Julius Rosenberg menyerahkan informasi rahasia bom atom Amerika kepada Uni Soviet, tetapi tidak satupun mata-mata yang telah menyebabkan kerusakan lebih besar kepada negara ini daripada yang dilakukan oleh mata-mata Israel: Jonathan Pollard.

informasi Pollard yang digunakan oleh Israel tidak hanya menghancurkan kegiatan operasi intelijen Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah; informasi ini di lapangan menghancurkan perangkat intelijen Amerika di Uni Soviet dan Blok Timur.(28) Banyak agen terbaik Amerika Serikat dan begitu loyal di dunia komunis dieksekusi karena Israel menjual atau membarter informasi ke pihak Uni Soviet.(29) Sebagaimana artikel di bawah ini yang ditulis oleh Eric Margolis, “sekutu dan teman dekat Amerika Serikat ini” Israel bahkan tidak akan mengizinkan pihak Amerika Serikat menginterogasi agen-agen Mossad yang menangani kegiatan mata-mata Pollard agar dapat menentukan kerusakan yang diderita Amerika Serikat dan bahaya yang mungkin dialami agen-agen Amerika di luar negeri.

Sebagian rahasia paling sensitif yang dicuri oleh Pollard mungkin telah dijual atau dibarter oleh pihak Israel ke Uni Soviet.

Sejumlah agen kunci CIA di Blok Timur diduga dieksekusi sebagai akibat kegiatan mata-mata Pollard. KGB kemungkinan besar mendapatkan akses ke kode-kode Amerika Serikat yang sangat rahasia – baik secara langsung dari Israel atau melalui kegiatan mata-mata dalam pemerintahan Israel. Dengan kata lain, tindakan subversi Pollard menyebabkan salah satu bencana keamanan paling buruk dalam sejarah modern Amerika Serikat …

Dengan demikian, Israel yang menerima milyaran dolar bantuan Amerika, secara subversif telah memata-matai dan membahayakan keamanan Amerika Serikat. Untuk memperlihatkan lebih lanjut kebencian mereka kepada bangsa Amerika, mereka bahkan membarter informasi yang sangat rahasia dimana mereka telah curi dari kita – kepada musuh Amerika. Bahkan setelah public relations Israel meminta maaf atas kasus kegiatan mata-mata Pollard, negeri Yahudi ini terus menerus melakukan kegiatan mata-mata atas Amerika Serikat. Harian Los Angeles Times pada tahun 1997 melaporkan bahwa seorang Yahudi Amerika bernama David A. Tenenbaum “mengakui menyerahkan informasi rahasia kepada Israel.”(30) Mengutip artikel harian Los Angeles Times itu, “Seorang insinyur sipil yang bekerja di fasilitas komando Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dekat Detroit telah mengakui menyerahkan informasi militer rahasia kepada para pejabat Israel selama 10 tahun terakhir.”

Bahkan setelah Israel terbukti keinginannya untuk memata-mata kita dan secara kritis merusak kegiatan operasi intelijen Amerika, Presiden Clinton menunjuk seorang Yahudi Zionis yang penuh dedikasi untuk menjabat sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional, posisi intelijen tertinggi di Gedung Putih. Bahkan harian Israeli, Maariv, menyebut Berger sebagai seorang “Yahudi yang bersahabat,” berarti dia mengabdi pertama-tama kepada Israel.(31) Dengan menunjuk Berger sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional setelah Kasus Mata-mata Pollard merupakan kegilaan.

Kenyataan Israel dapat melakukan tindakan kekerasan ini terhadap Amerika Serikat tanpa mengalami serangan media massa atau bahkan pengakhiran bantuan kepada Israel, menunjukkan kekuatan Israel yang begitu besar terhadap negara dan bangsa Amerika dan tindakan subversif yang telah menancap dalam hingga eselon paling tinggi dalam birokrasi pemerintahan Amerika Serikat. Oleh karena itu, dapat dipastikan Ariel Sharon dapat mengeluarkan pernyataan berikut ini kepada Simon Peres yang menyatakan Israeldapat kehilangan bantuan Amerika bila negeri ini tidak menghentikan berbagai serangan terakhirnya. Sharon menjawab:

“Setiap waktu kita melakukan sesuatu Anda mengatakan kepada saya Amerika akan melakukan ini dan itu . . . Saya tegaskan kepada Anda: Jangan kuatir dengan tekanan Amerika kepada Israel. Kita, bangsa Yahudi, mengontrol Amerika dan bangsa Amerika tahu hal ini” — Ariel Sharon, 3 Oktober 2001 (32)

Tidak hanya Jonathan Pollard melakukan pengkhianatan terhadap bangsa Amerika. Seluruh mereka yang berada di dalam pemerintahan Amerika yang akan terus menerus memberikan dukungan secara militer dan moneter kepada sebuah bangsa asing yang memata-matai kita dan melakukan kerusakan secara parah terhadap operasi intelijen kita (dan menyebabkan kematian agen-agen Amerika) telah melakukan pengkhianatan kepada bangsa Amerika Serikat. Merespons terhadap tindakan subversi yang terus menerus terhadap Amerika Serikat, sebuah Pemerintahan Amerika yang patriotis akan (paling minimal) mengakhiri dukungan kita kepada Israel. Mendukung sebuah bangsa asing setelah negara tersebut dengan sengaja melakukan tindakan subversi terhadap bangsa Amerika adalah bentuk pengkhianatan.

Serangan atas World Trade Center
Dengan demikian, catatan ini sudah jelas. Israel adalah negara teroris yang paling buruk di muka bumi. Israel dan para pemimpin terorisnya seperti Begin, Shamir dan Sharon telah melakukan pembersihan etnik, pemboman, penembakan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina selama setengah abad terakhir. Israel juga telah melakukan berbagai tindakan subversi dan terorisme terhadap Amerika Seriakt seperti kasus Lavon Affair.

Israel juga telah melakukan berbagai tindakan subversi dan terorisme terhadap bangsa Amerika Serikat sebagaimana saya dengan jelas mengungkapkan dalam dokumentasi kasus Lavon Affair, Skandal Mata-mata Pollard dan Serangan terhadap kapal perang USS Liberty.

Karena kekuatan Israel yang begitu besar di media massa dan pemerintahan, para pengkhianat terhadap negara Amerika Serikat terus menerus mendukung, dengan sedikit rasa takut untuk dihukum, bangsa teroris yang paling kejam ini.

Sebenarnya para pengkhianat terhadap negara Amerika Serikat mensuplai Israel dengan berbagai senjata canggih yang digunakan untuk melakukan serangan teroris atas Kebebasan!

Walaupun berbagai upaya Yahudi dan para pengkhianat lainnya terhadap Amerika Serikat, pemerintah Amerika telah mengungkapkan kebijakan luar negeri yang berulang-ulang mengkhianati kepentingan dasar bangsa Amerika. Dukungan moneter dan militer Amerika telah memungkinkan Israel melanjutkan serangan terorisme yang terus menerus terhadap warga Palestina. Dukungan pengkhianat Amerika atas teror Israel menyebabkan kebencian yang mendalam atas Amerika Serikat, terutama kepentingan strategis dan ekonomi Amerika dan termasuk benih terorisme yang sekarang ini berkembang biak terhadap negara Amerika.

Para pengkhianat yang menjual Amerika kepada Israel sama salahnya dengan menyebabkan melayangnya 5000 nyawa orang Amerika pada 11 September seperti mereka yang membajak dan menabrakkan pesawat-pesawatnya ke gedung kembar World Trade Center dan Pentagon.

Israel menginginkan tindakan terorisme Arab melawan bangsa-bangsa Barat.
Selama dua tahun terakhir, Israel mengalami bencana hubungan masyarakat yang paling buruk dalam sejarahnya. Terpilihnya pelaku pembunuhan massal, Ariel Sharon sebagai perdana menteri Israel merupakan upaya terakhir bagi jutaan orang yang berpikir lugu di seluruh dunia. Konferensi PBB tentang Rasisme, dimana menyebut Israel sebagai sebuah “Negara Apartheid,” juga menandakan semakin tumbuhnya sikap berseberangan dengan Israel.

Kemudian, tiba-tiba serangan atas World Trade Center telah merubah sikap berseberangan dunia atas Israel. Apakah hal ini hanya suatu kebetulan bagi Israel?

Sebagaimana saya ungkapkan di artikel ini, para pemimpin Israel telah meluncurkan sejumlah serangan teroris terhadap bangsa Amerika dengan menuding sebagai serangan Arab, karena mereka tahu setiap serangan teroris Arab terhadap negara Amerika akan mengusung kepentingan Israel sendiri. Mereka sepenuhnya sadar bahwa lebih besar serangan terhadap Amerika; semakin banyak pembunuhan massal, maka lebih baik lagi bagi Israel. Ariel Sharon mempelajari sebuah pelajaran penting di Beirut. Agaknya lebih dari melakukan tindakan subversi secara langsung terhadap Amerika seperti kasus Lavon Affair dan serangan atas kapal perang USS Liberty, maka jauh lebih mudah dan lebih aman bagi Israel untuk terus melakukan tindakan subversif, seperti di kamp pengungsi Sabra dan Shatila atas rakyat Arab agar dapat mendorong musuh-musuh Islam mereka melakukan tindakan terorisme atas Barat. Apa yang terjadi dalam pemboman balas dendam atas Marinir Amerika dan Pasukan Para Perancis di Beirut, dan teror Israel yang telah memotivasi Serangan atas Gedung Kembar WTC.

Apakah Peran Israel dalam Serangan WTC?
Harian Washington Times menurunkan sebuah artikel pada 10 September 2001 mengenai kajian 68 halaman yang dikeluarkan oleh U.S. Army School for Advanced Military Studies (SAMS). Kajian ini yang dikeluarkan oleh sekolah pasukan khusus Amerika Serikat, menjelaskan secara terinci kemungkinan bahaya kekuatan pendudukan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Di bawah ini komentar artikel tentang pandangan kajian ini atas Mossad Israel:

Tentang Mossad, dinas intelijen Israel, para perwira SAMS berkata: “Bengis, licik dan sukar ditebak. Dinas rahasia ini mempunyai kemampuan menyerang pasukan tempur Amerika Serikat dan menjadikan Amerika dan menjadikannya seperti tindakan mereka atas rakyat Palestina/Arab.”

Yang ironis, dalam waktu 24 jam dari penerbitan artikel itu, gedung kembar World Trade Center dan Pentagon diserang. Dapatkah “Mossad yang sukar ditebak dan licik itu,” seperti penjelasan para Perwira Angkatan Bersenjata Amerika itu, secara rahasia berada di belakang serangan itu?

Mossad adalah organisasi teroris yang paling kejam di seluruh dunia. Dinas intelijen Israel ini juga salah satu organisasi intelijen yang paling besar dan canggih. Tidak satupun negara mendekati luas dan kekuatannya di wilayah Timur Tengah. Dinas rahasia ini membanggakan dirinya karena mampu menginfiltrasi setiap organisasi militan Arab dan Palestina di dunia ini. Dengan mengetahui fakta ini, dapat dipastikan Mossad telah mempenetrasi secara mendalam salah satu organisasi teroris Arab yang paling berbahaya dan paling luas di dunia; Al Qaida di bawah bin Laden.

Kemudian, FBI dan CIA dengan jelas menyatakan serangan atas Gedung WTC dan Pentagon adalah operasi rahasia berskala besar dengan mempergunakan jaringan internasional sekurang-kurangnya seratus teroris lintas tiga benua. Dapatkah agen-agen Mossad di Al-Qaida maupun jaringan ribuan infiltrator dan informan Mossad tidak mengetahui tentang operasi teroris Arab yang paling luas dan ambisius ini dalam sejarah itu?

Tentunya sangat sulit untuk membuktikan peranan yang tepat dari sebuah organisasi luar negeri dan rahasia itu, seperti Mossad, dalam sebuah tindakan teroris; mereka tidak mau mengungkapkan seluk-beluk ini di Internet. Tetapi, bukti-bukti yang kuat terlihat bahwa pihak Israel telah mengetahui sebelum serangan 11 September atas Amerika itu. Dan apabila mereka sebelumnya mengetahui tindakan terorisme ini – dan kemudian dengan mentalitas berdarah dingin tidak memperingatkan Amerika Serikat karena mereka melihat pembunuhan massal ribuan warga Amrika sebagai hal yang baik bagi Israel – oleh karena itu, mereka tidak merasa punya tekanan sebenarnya menghasut dan secara tersamar membantu rencana teroris ini melalui agent provocateurs negara Zionis ini. Coba lihat berbagai bukti kuat yang mengindikasikan Mossad mengetahui sebelumnya serangan 11 September tersebut.

Bukti Tindakan Subversif Mossad dalam Serangan WTC
Hari setelah serangan atas Gedung World Trade Center, harian Israel Jerusalem Post, melaporkan 4000 orang Israel hilang dalam serangan di WTC. Kementerian Luar Negeri Israel mengumpulkan jumlah korban itu dari para keluarga Israel yang dalam beberapa jam pertama setelah serangan itu, mengontak Kementerian Luar Negeri Israel dan memberikan nama-nama teman dan saudara yang bekerja di Gedung Kembar WTC atau yang mempunyai kegiatan bisnis yang dijadwalkan di gedung tersebut atau gedung-gedung sekitarnya. Bahkan tanpa membaca artikel ini di Jerusalem Post itu, akal sehat kita dapat mengungkapkan bahwa akan ada ratusan, bila tidak ribuan orang Israel di gedung WTC pada waktu serangan itu berlangsung. Keterlibatan Yahudi internasionall dalam bidang perbankan dan keuangan sudah menjadi legenda. Misalnya, dua firma terkaya di New York adalah Goldman-Sachs dan Solomon Brothers; dan keduanya berkantor di Gedung Kembar WTC itu. Banyak eksekutif di kedua firma itu secara regular pulang pergi Israel. New York adalah pusat kekuatan keuangan Yahudi yang terbesar di dunia dan Gedung World Trade Center berada di pusat kekuatan Yahudi itu. Dapat diduga jumlah kematian orang Israel akan begitu besar. Harian Jerusalem Post dengan pasti memperkirakan pada 12 September 2001. Di bawah ini permulaan dari artikel tersebut:

Ribuan Warga Israel Hilang dekat Gedung Kembar WTC, Pentagon
Kementerian Luar Negeri Israel di Jerusalem sejauh ini telah menerima nama-nama 4000 warga Israel yang diyakini berada di area Gedung Kembar World Trade Center dan Pentagon pada waktu serangan itu terjadi. (Headline dan kalimat pertama pada artikel yang terbit di harian Jerusalem Post) (33)

Ketika George Bush membuat pernyataannya di depan Kongres, dia membuat kesalahan yang mendalam selain menyatakan bahwa para penyerang WTC melakukan hal ini “karena membenci kebebasan”. Bush juga membuat pernyataan selain ribuan warga Amerika, 130 Israel meninggal di WTC. Mendengar jumlah 130 warga Israel yang meninggal, terlihat begitu rendah bagi penulis. Apabila 4000 warga Israel berada di Gedung WTC dan jumlah korban WTC sekitar 4500 (sekitar 10 persen dari 45.000 orang yang umumnya bekerja di gedung ini pada waktu itu), maka jumlah korban warga Israel secara statistik seharusnya sekitar 400 dan bukan 130 jiwa.

Sebagai pusat kegiatan bisnis dan gedung perkantoran, Gedung Kembar World Trade Center bukanlah jenis gedung semacam MacDonald atau gedung bagi para pekerja ber-upah rendah; gedung ini ditempati para pegawai eksekutif dan jenis pekerjaan berlevel tinggi dan teknologi tinggi serta bergaji tinggi, terutama dalam bidang keuangan, perbankan dan saham. Saya bertanya pada diri sendiri bagaimana hanya dapat ada 130 warga Israel yang meninggal, sedangkan 199 warga Kolombia dan 428 warga Filipina meninggal.

Pada berbagai artikel penulis lainnya tentang teror 11 September, penulis tidak mengungkapkan kecurigaan ini karena saya selalu berupaya tidak menulis segala sesuatu yang saya tidak dapat dengan tegas meyakininya. Tetapi, ketika meneliti artikel tentang terorisme Israel terhadap Palestina dan Amerika, saya menemukan fakta yang sangat mencengangkan dari yang saya telah lihat selama bertahun-tahun melakukan penelitian dan penulisan. Saya menemukan fakta sederhana dengan implikasi yang begitu mendalam berkenaan dengan serangan teror September tersebut.

Penelitian atas ratusan artikel yang mencoba melacak jumlah sebenarnya warga Israel yang meninggal itu, saya menemukan sebuah berita di harian New York Times yang mengklarifikasi bahwa jumlah yang tepat warga Israel yang meninggal dalam serangan atas Gedung World Trade Center. Artikel ini mengungkapkan bahwa di antara 130 warga Israel yang diklaim Presiden Bush mati di Gedung World Trade Center, sekitar 129 di antaranya masih hidup. Hanya satu warga Israel sebenarnya meninggal. Saya tidak percaya. “Tuhan Yang Maha Baik,” kata saya dalam hati, “hanya satu orang Israel meninggal!” Berikut ini cuplikan dari artikel di harian di New York Times tersebut:

Tetapi berbagai wawancara dengan banyak pejabat konsulat Israel, hari Jum’at lalu, mengungkapkan daftar orang-orang yang sudah dikumpulkan dari berbagai pihak. Misalnya, kota ini telah menerima berbagai laporan tentang banyak warga Israel yang diperkirakan hilang di tempat kejadian dan Presiden Bush dalam pidato kenegaraannya ke seluruh negeri pada hari Kamis malam menyebutkan sekitar 130 warga Israel mati dalam serangan WTC tersebut.

Tetapi hari Jum’at lalu, Alon Pinkas, konsul general Israel di sini, mengatakan daftar orang-orang yang hilang mencakup laporan dari orang-orang yang telah menelepon ke konsultan ini karena, misalnya, saudara-saudaranya di New York tidak menjawab sambungan telepon dari Israel. Namun, pada kenyataan hanya ada tiga orang Israel yang diyakini mati: dua orang di pesawat terbang yang ditabrakan dan satu yang sedang mengunjungi Gedung Kembar WTC ini untuk urusan bisnis dan sudah diidentifikasi dan dikuburkan. (New York Times, 22 September) (34)

Total tewas 130 jiwa yang begitu rendah mengungkapkan sejumlah orang Israel di Gedung Kembar WTC telah diberi peringatan sebelum serangan berlangsung. Ketika saya menemukan kebenaran hanya satu warga Israel mati, maka dapat dipastikan ada peringatan sebelumnya bagi banyak warga Israel. Dengan hanya korban satu warga Israel di antara 4500 orang yang tewas di WTC suatu ketidaklaziman secara statistik. Bahkan apabila kementerian luar negeri Israel dan harian Israel Jerusalem Post memperkirakan jumlah warga Israel di Gedung Kembar WTC, misalnya, 3000 orang (400 persen), maka seharusnya ada sekitar 1000 warga Israel pada waktu serangan itu berlangsung. Kemudian, apabila hanya beberapa ratus warga Israel ada pada waktu serangan itu, hanya satu warga Israel yang mati, maka secara statistik realitas itu suatu yang sangat tidak masuk akal. Tanggal 11 September mesti merupakan sebuah hari libur bagi kaum Yahudi atau sejumlah warga Israel telah diberi peringatan terlebih dahulu tentang serangan yang akan terjadi.

Peringatan Dini bagi Warga Israel
Poin berikutnya yang penulis teliti adalah melihat apabila ada konfirmasi peringatan dini terhadap warga Israel sebelum serangan 11 September itu. Penulis menemukan sebuah artikel di Newsbytes, sebuah layanan berita dari harian Washington Post, berjudul “Instant Messages To Israel Warned of WTC attack.”(35) Harian Israel, Ha’aretz, juga mengkonfirmasi peringatan dini bagi Israel dan menegaskan FBI sedang menginvestigasi berbagai peringatan dini tersebut.(36) Artikel ini menjelaskan bahwa sebuah firma jasa pemberi kabar Israel, Odigo, dengan kantor di Gedung Kembar WTC dan Israel, menerima sejumlah peringatan dini ini tepat dua jam sebelum serangan tersebut terjadi.

Instant Messages To Israel Warned Of WTC Attack
Sejumlah direktur perusahaan Yahudi Odigo, firma jasa pemberi kabar, mengkonfirmasi hari ini bahwa dua pegawainya menerima telegram peringatan tentang sebuah serangan di Gedung Kembar World Trade Center dua jam sebelum para teroris menabrakkan pesawat-pesawat terbang komersial ke gedung cirri khas kota New York itu.

Tetapi Alex Diamandis, wakil presiden pemasaran dan penjualan, mengkonfirmasi bahwa para pegawai di kantor litbang dan penjualan internasional perusahaan Odigo di Israel menerima sebuah peringatan dari seorang pelanggan Odigo sekitar dua jam sebelum serangan pertama terjadi. (Dari Newsbytes harian Washington Post)

Oleh karena itu, sekarang kita mempunyai bukti yang sangat jelas dan meyakinkan dari sumber-sumber yang tidak diragukan bahwa Israel sudah mengetahui sebelumnya tentang serangan ini. Pertama, tanpa peringatan dini, tidak mungkin hanya jatuh korban satu orang Israel di Gedung Kembar World Trade Center. Kedua, ada konfirmasi yang jelas bahwa sebuah perusahaan dengan kantor-kantor baik di Israel dan WTC menerima berbagai peringantan tepat sebelum serangan itu berlangsung.

Siapa yang mungkin telah memberikan peringatan dini kepada warga Israel tentang serangan yang akan berlangsung, mungkinkah bukan Mossad Israel? Kenyataan menunjukkan pemerintah Israel telah mendapatkan informasi sebelumnya tentang serangan ini dan telah memperingatkan warga Israel yang kemungkinan besar menjadi korban, tetapi kemudian secara sadar membiarkan ribuan warga Amerika meninggal – membuat warga Israel sama bertanggungjawabnya dalam tindakan pembunuhan ini seperti para penyerang Arab terhadap gedung WTC tersebut.

Apa yang baik bagi Israel buruk bagi Amerika
Anda dapat pastikan tumbuh berkembang rasa suka cita dalam hati-hati seluruh teroris Israel ketika menyaksikan keluarnya awan putih dari gedung kembar tersebut. FBI bahkan menahan lima warga Israel di sebuah atap gedung dekat gedung jangkung tersebut ketika men-videotape-kan dan bergembira ria dengan seluruh peristiwa tersebut.(37) Mereka tahu bahwa bangsa perlawanan dunia dan Amerika terhadap Supremasisme dan terorisme Israel itu keliru dengan runtuhnya gedung kembar tersebut. Agaknya, pernyataan yang paling tepat adalah ketika seorang reporter harian NY Times mengajukan pertanyaan kepada mantan PM Israel, Benjamin Netanyahu, seorang pemimpin yang sama radikalnya dengan Ariel Sharon. Berikut ini pernyataan yang mengejutkan dari mantan PM Israel tersebut:
Ketika ditanya malam itu tentang apakah serangan itu punya makna dalam hubungan antara Amerika dan Israel, Benjamin Netanyahu, mantan perdana menteri itu, menjawab “Sangat baik sekali.” Kemudian dia meralat sendiri pernyataannya itu: “Baik, tidak sangat baik, tetapi peristiwa ini akan menumbuhkan rasa simpati. (38)

Gedung Kembar World Trade Center Attack jelas sangat baik bagi Israel; sebenarnya Israel itu satu-satunya bangsa yang mendapatkan manfaat dari peristiwa tragis ini. Catatan tindakan terorisme Israel yang terus menerus selama lima puluh tahun terakhir menjadi sama sekali terselubungi dan tertutupi oleh horor dan gambaran visual serangan teroris yang luar biasa ini. Ketika media massa Amerika yang didominasi Yahudi berulang-ulang mengungkapkan beberapa warga Palestina yang lama menderita serangan ini merayakan serangan itu, rakyat Palestina digambarkan secara kurang adil di balik teror gedung WTC ini, walaupun setiap organisasi Palestina mengutuk serangan tersebut dan tidak satupun warga Palestina terbukti terkait dengan peristiwa ini.

Tentunya bangsa Amerika Serikat yang paling menderita dari semua hal ini, dengan korban hampir mencapai 5000 jiwa, kehancuran ekonomi dan reaksi paling buruk terhadap kebebasan Konstitusi dalam sejarah Amerika. Kasus Lavon Affair, Serangan terhadap kapal perang USS Liberty dan kegiatan mata-mata Jonathon Pollard serta pembunuhan 5000 warga Amerika dalam serangan 11 September – seluruhnya baik bagi Israel, tetapi begitu buruk bagi Amerika Serikat.

Kapan Amerika Serikat akan sepenuhnya memahami apa yang baik bagi negara teroris Israel suatu yang destruktif dan bahkan mematikan bagi bangsa dan negara Amerika Serikat?

Kapan kita akan menghentikan sama sekali agen mata-mata Israel dan para pengkhianat Amerika yang telah mendukung selama 50 tahun tindakan terorisme Israel dan 50 tahun tindakan subversi terhadap bangsa dan negaranya sendiri?

Dedikasi hidup saya dipersembahkan bagi sebuah bangsa dan negara Amerika yang bebas, aman dan berdaulat, seorang anak bangsa Amerika yang berdedikasi kepada rakyat dan kepentingan Amerika sendiri; bukan untuk berbagai tujuan kriminal dari sebuah bangsa teroris.

Berapapun biaya yang akan ditanggung oleh saya secara pribadi, saya akan terus berjuang di jalan ini.

Saya berharap Anda akan bergabung dengan saya. Saya berharap Anda tidak membeli keamanan Anda dengan mengorbankan kebebasan dan kehormatan Anda.

Marilah dengan berani menyebarkan informasi artikel ini kepada orang-orang Amerika lainnya dan bagian dunia lainnya. Berikanlah informasi tentang sebuah bangsa teroris yang paling buruk di atas permukaan bumi ini: Israel. Dengan demikian, Anda akan membantu menyelamatkan tidak hanya rakyat Palestina, tetapi juga jiwa dan kebebasan rakyat Amerika.

Dari : David Duke
Presiden Nasional European-American Unity and Rights Organization (EURO)
21 November, 2001

~ TAMAT ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: