Rahasia Israel (Zionis) Sebagai Teroris Internasional (2)

Teror Penyiksaan Israel: Jatuh Korban Sekitar 150.000 Jiwa
Penyiksaan brutal atas ribuan musuh-musuh sebuah negara harus diklasifikasikan sebagai bentuk terorisme yang paling kejam. Puluhan ribu rakyat Palestina telah disiksa di penjara-penjara Israel. Sebuah kelompok pejuang HAM di Israel dalam laporan setebal 60 halaman melaporkan sekitar 85% tahanan Palestina mengalami penyiksaan.(17) Dan tidak salah lagi; banyak penyiksaan yang dialami oleh korban Palestina ini lebih dari mimpi paling buruk. Penyiksaan Israel mencakup dari menyumbat para korban dengan air seni dan kotoran manusia di kantong-kantong yang di ikat di atas kepalanya hingga mempergunakan alat cemeti listrik untuk perkosaan anal dan pemotongan bagian-bagian tubuh. Israel juga tidak pernah mengakui siapa yang ditahannya hingga tindakan pembunuhan atau penyiksaan seorang warga Palestina yang menyebabkan kematian korban, maka jasadnya tidak pernah ditemukan atau diklaim mati dalam pertempuran dengan pihak polisi Israel sebelum ditangkap. Puluhan ribu warga Palestina dan Lebanon meninggal ketika dalam tahanan Israel.

Sebuah artikel feature yang ditulis Joel Greenburg di harian pro-Israel New York Times mengungkapkan rejim Israel menyiksa 500 hingga 600 warga Palestina setiap bulan.(18) Angka yang kemungkinan besar begitu rendah itu karena berasal dari harian pro-Israel New York Times, berarti bahwa setiap tahun dari sebenarnya paling sedikit 6000 orang Palestina disiksa Israel. Penyiksaan ini telah berlangsung sejak tahun 1948 (53 tahun terakhir). Apabila angka ini setengah dari pengakuan Greenburg dan berlangsung setiap tahun – maka sekurang-kurangnya 150.000 jiwa telah disiksa di penjara-penjara Israel sejak berdirinya negara Yahudi ini.

Untuk mengatasi berbagai masalah humas Israel karena legalisasi penyiksaan negeri Yahudi ini, pada tahun 1999 Mahkamah Agung Israel menetapkan sebuah undang-undang dengan niat yang kabur dimana kebijakan penyiksaan Israel ini kadang-kadang suatu bentuk kebijakan ilegal, tetapi kelompok HAM Israel dan Palestina memberikan banyak bukti bahwa undang-undang itu hanyalah suatu gincu hubungan kemasyarakatan. Mereka memberikan bukti bahwa kebijakan penyiksaan terus menerus dilakukan seperti sebelum undang-undang itu ditetapkan. (19)

Di belakang kebijakan penyiksaan Israel ini, sekarang para wartawan Yahudi mulai menyerukan penggunaan penyiksaan di Amerika! Sebuah artikel di Newsweek berjudul ‘Time to think about torture’ dan para tahanan yang selamat perlu merasakan teknik lama yang agaknya sudah tidak dipertanyakan lagi.” (20) Bahkan pembela kebebasan hak-hak sipil pendukung Yahudi, Alan Dershowitz, sekarang ini menyerukan penggunaan penyiksaan. (21)

Victor Ostrovsky, mantan agen Mossad Israel, menulis dua buku mengenai teror Israel terhadap musuh-musuhnya. Pada salah satu bukunya, dia membahas nasib warga Palestina yang secara ilegal menyeberangi tapal batas untuk mencari pekerjaan di Israel. Puluhan ribu orang-orang muda ini hampir sama sekali tidak terdengar lagi setelah ditangkap oleh tentara Israel. Sebagian mereka yang tertangkap dibawa ke fasilitas penelitian ABC dimana mereka akan mengalami tindakan teror kimia, nuklir atau perang biologi yang sangat kejam.

…fasilitas ABC didirikan untuk penelitian atom, bakteriologi dan kimia. Para ahli epidemologi Israel mengembangkan berbagai mesin perang paling modern ini … seharusnya untuk sebuah perang total dimana jenis senjata ini sangat dibutuhkan; tidak ada celah untuk kesalahan sedikitpun. Para infiltrator Palestina akan menjadi kelinci percobaan mesin ini. Sebagai guinea pigs manusia, mereka dapat memastikan senjata yang sedang dikembangkan para ahli bekerja dengan baik dan dapat memverifikasi seberapa cepat dan jauh lebih efisien mesin perang ini berfungsi. (22)

Teror atas Rakyat Lebanon
Selama invasi dan pendudukan Israel di Lebanon (1978-2000), sekitar 15.000 warga sipil meninggal. Contoh teror itu adalah pembomanan secara sengaja PBB center di Qana, Lebanon yang terjadi hanya lima tahun lalu. Artikel berikut ini tidak ditulis oleh seorang Palestina, Arab atau bahkan seorang Muslim, tetapi seorang warga Inggris, Robert Fisk, salah seorang wartawan Inggris yang paling dihormati dimana bekerja di Timur Tengah. Dia menulis untuk harian London, The Independent. Apabila seorang warga Amerika mau memahami kebencian yang dilakukan Israel terhadap bangsa Amerika, maka dia harus berani membaca laporan ini dan berani untuk melihat secara mendalam gambaran yang memperlihatkan realitas teror Israel tersebut.

Qana, Lebanon Selatan – Ini sebuah pembunuhan massal. Tidak hanya sejak pembunuhan massal di kamp pengungsi Sabra dan Chatila saya melihat warga sipil yang dibantai seperti ini. Wanita, anak-anak dan pria pengungsi Lebanon tergeletak tidak bernyawa dalam tumpukan-tumpukan dengan telapan tangan, lengan atau kaki korban-korban hilang, dipotong atau disayat. Ada lebih dari ratusan jumlahnya. Seorang bayi tergeletak di tanah tanpa kepala. Rudal-rudal Israel telah mencabik-cabik mereka ketike berlindung di bunker PBB, yang dipercaya aman di bawah perlindungan dunia. Seperti umat muslim di Srebrenica, anggapan umat muslim di Qana juga tidak benar.

Di depan sebuah gedung yang terbakar dimana menjadi markas besar batalion PBB asal Fiji, seorang anak perempuan menggotong tubuh di kedua tangannya, tubuh seorang pria yang rambutnya sudah beruban dimana kedua matanya menerawang ke anak perempuan itu, dan dia mengunjang-gunjangkan tubuh pria itu ke depan dan ke belakang, bersimpuh, menangis dan berteriak dengan kata yang sama berulang-ulang: “Ayah saya, ayah saya.” Seorang tentara PBB asal Fiji berdiri di tengah lautan tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa dan tanpa dapat berkata apa-apa, mengangkat tubuh seorang anak tanpa kepala.

…Ketika saya berjalan ke arah tubuh-tubuh yang tidak bernyawa itu, saya terjatuh di atas potongan lengan manusia…

Pembantaian massal Israel atas warga sipil dalam serangan ofensif selama 10 hari yang kejam – 206 orang tewas sekitar malam terakhir – dengan begitu biadab dan kejam, tidak satupun seorang rakyat Lebanon akan melupakan pembunuhan massal ini. Sebuah mobil ambulans diserang pada hari Sabtu, kakak beradik yang terbunuh di Yohmor hari sebelumnya, seorang anak berusia dua tahun hancur kepalanya oleh sebuah rudal Israel empat hari kemudian. Dan kemarin pagi, tentara Israel membantai sebuah keluarga yang terdiri dari 12 jiwa – paling muda bayi berusia empat hari – ketika pilot-pilot Israel menembakkan rudal ke dalam rumah mereka.

Tidak lama kemudian, tiga jet Israel menjatuhkan bom-bom hanya 250 meter dari sebuah konvoi PBB dimana saya sedang melaju di atas sebuah kendaraan, menghancurkan sebuah rumah dan kepingan rumah itu terbang hingga 30 kaki di depan mata saya. Ketika pulang ke Beirut untuk menulis laporan saya tentang pembunuhan Qana untuk harian Independent malam itu, saya melihat dua kapal bersenjata Israel menembaki mobil-mobil warga sipil di jembatan sungai di utara kota Sidon …

Seorang tentara PBB asal Perancis menggumamkan janji kepada dirinya ketika dia membuka sebuah tas dimana dia menjatuhkan kaki-kaki, jari-jari, potongan lengan-lengan manusia …

Kami tiba-tiba bukan menjadi tentara PBB maupun wartawan tetapi orang-orang Barat, sekutu Israel, sasaran kebencian dan kemarahan. Seorang pria bercambang dengan kedua matanya berkaca-kaca memandang kepada kami, wajahnya kelam karena kemarahan yang mendalam. “Anda orang Amerika “, dia berteriak kepada kami. ” Amerika itu anjing. Anda lakukan ini. Amerika itu anjing.”

Presiden Bill Clinton telah menjadikan dirinya sekutu Israel dalam perang terhadap “terorisme” dan bangsa Lebanon dalam kesedihan yang mendalam tidak melupakan kenyataan ini. Ekspresi duka Israel secara resmi menumpahkan garam di atas luka mereka. “Saya ingin menjadi bom hidup dan meledakkan diri saya di tengah tentara Israel”, kata seorang pria tua … (23)

Apabila setiap orang Amerika membaca artikel Robert Fisk di atas, maka laporan ini dapat membantu mereka memahami mengapa Amerika dibenci dan mengapa sekarang kita menghadapi kamikaze teroris. Apabila Anda ingin mengetahui motivasi riil para teroris seperti Osama bin Laden, maka majalah The Nation, ketika melakukan sebuah wawancara dengannya pada 12 September 1998. Hal ini menjelaskan reaksinya terhadap pembunuhan massal Israel di Qana.

Ketika pada akhirnya saya melihat bin Laden, dia masih terobsesi dengan pembunuhan massal Israel atas 107 pengungsi Lebanon yang berlindung di bawah kamp PBB di Qana pada bulan April 1996. Israel mengklaim hal ini sebagai ‘kesalahan,’ PBB mengakui sebaliknya dan Presiden Clinton menyebut ini hanya sebuah ‘tragedi’—seolah-olah sebuah bencana alam. Hal ini, kata bin Laden, sebuah tindakan ‘terorisme internasional.’ Oleh karena itu, harus ada keadilan, katanya dan persidangan bagi para pelaku kejahatan Israel. Clinton mempergunakan hampir pernyataan yang sama tentang bin Laden dan para pendukungnya pada bulan Agustus. Akan tetapi, orang tuli biasanya berbicara dengan orang tuli.” (24)

Sebagian besar orang Amerika tidak pernah akan melihat laporan seperti Laporan Robert Fisk tentang pembantaian massal di Qana. Kontrol Israel atas media massa dan pemerintahan Amerika Serikat berhasil mengaburkan sebagian besar cerita yang berkembang tentang terorisme Israel terhadap rakyat Palestina. Sekarang ini saya akan mengungkap bahwa mereka juga mampu menutupi tindakan perang dan terorisme yang berlumuran darah terhadap Amerika Serikat.

Terorisme Israel terhadap Amerika
Pada tahun 1954, pemerintah Israel menggelar sebuah operasi teror rahasia terhadap Amerika Serikat dengan sandi Operation Suzannah. Operasi ini memplot membunuh warga Amerika dan meledakkan berbagai instalasi Amerika di Mesir. Rencana Israel adalah meninggalkan barang bukti yang keliru bahwa rejim Mesir melakukan sabotase ini sehingga Amerika di belakang Israel berperang dengan Mesir. Agen-agen Yahudi berhasil meledakkan sejumlah kantor pos dan perpustakaan Amerika di Kairo dan Alexandria. Ketika akan meledakkan bioskop Amerika, Metro-Goldwyn-Mayer Theater, bom agen Israel meledak premature. Oleh karena itu, baik Mesir dan Amerika berhasil mengungkap dan menghentikan plot ini pada tahap-tahap awal.

Karena penangkapan agen-agen Israel itu, dunia tahu tentang tindakan subversi Israel dan Menlu Israel, Pinhas Lavon, kemudian dipaksa untuk mengundurkan diri. Seluruh episode ini menjadi terkenal sebagai Lavon Affair. Pada saat ini, media massa dan penerbitan Amerika yang didominasi Yahudi secara jitu membungkus tindakan subvesi Israel ini terhadap bangsa Amerika. Sebagian besar orang Amerika tidak mengetahui sama sekali kasus ini. Misalnya, hanya sedikit sebutan Lavon Affair ditemukan dalam Encarta Encyclopedia popular. Hal ini berada dalam sebuah artikel tentang Ben Gurion yang ditulis oleh Bernard Reich yang pro-Yahudi. Dengan cara ini, penulis artikel ini mengilustrasikan sebuah pola media yang khas. Walaupun warga Amerika menganggap mereka sedang membaca laporan Encyclopedia atau majalah berita yang berpandangan jenih, tetapi lebih sering lagi mereka membaca laporan yang distorsif yang ditulis oleh para pendukung Yahudi.

Ben-Gurion kembali ke panggung politik pada tahun 1955 untuk menggantikan Menhankam Israel, Pinhas Lavon—yang mengundurkan diri setelah suatu upaya yang gagal untuk mensabotase hubungan Mesir dengan Barat. (25)

Yang perlu dicatat di sini adalah bagaimana artikel ini secara halus menulis, ’sebuah percobaan yang gagal untuk mensabotase hubungan Mesir dengan Barat.” Apa artinya? “Mensabotase hubungan“ berarti seolah-olah Israel mengatakan ada kebusukan di balik hubungan bilateral Mesir dan Amerika Serikat. Pemutarbalikan fakta secara sengaja yang digunakan dalam artikel ini oleh penulis Yahudi ini merupakan ciri khas distorsi pemberitaan media massa yang berlangsung terus menerus.

Satu alinea dalam Encarta Encyclopedia popular itu seharusnya dibaca:
“– orang yang dipaksa untuk mengundurkan diri setelah Israel tertangkap basah melakukan pengeboman teroris terhadap Amerika Serikat untuk memicu dengan cara memfitnah Amerika berperang melawan musuh Israel.”

Penulis yakin sembilan puluh persen mereka yang membaca artikel ini tidak pernah mendengar kasus ini. Sebagian pembaca mungkin berpikir saya mengarang semua cerita ini. Baiklah, bila Anda masih ragu bahwa Israel telah melakukan tindakan teroris ini terhadap Amerika di Mesir, maka di bawah ini ada sebuah kutipan dari artikel terbaru yang terbit di majalah Yahudi, Moment, yang ditulis oleh Samuel Katz dan berarti ditujukan kepada sejumlah kecil sidang pembaca Yahudi. Artikel ini lebih maju walaupun tidak mempergunakan kata provokatif, terorisme, sebuah kata yang digunakan pihak Israel bila para pejuang Palestina meledakkan perpustakaan-perpustakaan dan biosko-bioskop.

Dan kegagalan sama lazimnya dengan keberhasilan spektakuler. Pada pertengahan tahun 1950-an, A’man (Badan Pertahanan Yahudi) mengalami kemunduran yang serius selama “Operation Suzannah” yang terkenal itu ketika agen-agen Israel memprovokasi orang-orang Yahudi di Mesir untuk menyerang target-target Amerika dan Mesir dan membangkitkan sentimen anti-Barat. Banyak orang Yahudi ditangkap dan sebagian di antaranya dieksekusi. Operasi yang gagal ini suatu tamparan berat bagi pemerintahan PM David Ben-Gurion dan Menhankam Pinhas Lavon (26)

Dengan demikian, dalam Lavon Affair ini kita belajar bagaimana “teman baik” Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah,” Israel, membalas dukungan militer dan moneter yang tanpa syarat kepada Amerika Serikat: dengan melakukan terorisme terhadap bangsa Amerika! Perlu Anda ketahui sebagian besar rakyat Amerika tidak pernah mendengar mengenai serangan teroris Israel ini terhadap bangsa Amerika.

Apabila pemerintah Mesir berada di balik teror terhadap Amerika, maka kita berhak menganggap serangan ini sebagai sebuah isyarat perang dan kita mungkin sudah menyerang balik Mesir, seperti yang kita telah lakukan terhadap bangsa Afghanistan. Dan media massa; corong Yahudi ini pasti akan mendesak serangan ini seperti tuntutan mereka dengan serangan terhadap bangsa Afghanistan. Sebenarnya kita menyerang Afghanistan dengan alasan yang jauh lebih tidak dapat diterima daripada yang kita alami dari serangan Israel tersebut. Belum ada bukti pasti bahwa Afghanistan terbukti atau bahkan mengetahui segala sesuatu tentang serangan terhadap gedung kembar World Trade Center; tetapi dalam kasus Lavon Affair, pemerintah Israel melakukan sebuah tindakan perang langsung terhadap bangsa Amerika Serikat. Tentu, kita tidak membom Tel Aviv sebagai tindakan pembalasan. Kita tidak memutuskan hubungan diplomatis. Bahkan kita tidak mengakhiri bantuan militer dan moneter yang bernilai milyaran dolar tersebut!

Setiap pejabat pemerintah Amerika Serikat yang telah memberikan bantuan kepada bangsa Jepang setelah serangan terhadap Pearl Harbor akan dihukum sebagai seorang pengkhianat terhadap bangsa Amerika Serikat.

Sungguh sama sekali saya tidak mengerti. Orang-orang Amerika di jajaran pemerintahanan yang terus menerus memberikan dukungan terhadap Israel setelah negara Yahudi itu melakukan tindakan teroris terhadap rakyat Amerika – jelas melakukan pengkhianatan terhadap bangsa kita.

Apabila para pemimpin Amerika, setelah serangan teroris Israel terhadap bangsa Amerika dalam kasus Lavon Affair, akan menghentikan bantuan pengkhianatan mereka terhadap Israel, maka tidak akan ada tindakan teror berikutnya terhadap bangsa Amerika, seperti serangan terhadap World Trade Center dan Pentagon.

Serangan Teroris Israel terhadap USS Liberty
Pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari, Israel juga melakukan tindakan teroris yang serius terhadap Amerika Serikat. Pada tanggal 8 Juni, Israel mempergunakan pesawat tempur dan kapal-kapal torpedo tanpa identitas untuk melancarakan serangan satu setengah jam terhadap kapal AL Amerika Serikat, USS Liberty yang mengakibatkan tewas 34 orang dan 171 lainnya luka-luka.(27) Israel pertama-tama menyerang tower radio USS Liberty agar Armada Keenam Amerika Serikat tidak mengetahui bahwa pihak Israel adalah pelaku penyerangan ini. Setelah pesawat-pesawat tempur Israel yang tanpa identitas itu dengan gencar membom dan menyerang USS Liberty, kemudian Israel mengirim kapal-kapal torpedo untuk menuntaskan misi ini. Mereka bahkan menembaki dengan senjata mesin perahu-perahu penyelamat yang sudah diturunkan dalam upaya untuk memastikan tidak satupun yang selamat (para saksi) yang dapat mengungkapkan pelaku serangan tersebut.

Hanya karena heroisme dan kemampuan kapten dan kru kapal USS Liberty membuat rencana Israel itu gagal total. Mereka mampu mempertahankan kapal itu tetap mengapung dan juga mengkontak dan memberi tahu Armada Keenam bahwa pihak Israel daripada Mesir yang telah menyerang kapal tersebut. Mengetahui rencanannya telah terungkap, Israel menarik mundur dan dengan diam-diam mengklaim serangan itu merupakan kasus salah identifikasi. Pihak Israel menyatakan mereka salah mengira USS Liberty adalah sebuah kapal perang Mesir.

Menlu Amerika Serikat pada waktu itu, Dean Rusk, dan Kepala Staf Gabungan AS, Laksamana Thomas Moorer, keduanya menyatakan serangan itu bukanlah kecelakaan, Israel secara sengaja menyerang USS Liberty. Misalnya, hari itu langit sangat cerah dan kecepatan angin normal serta USS Liberty memasang bendara Amerika yang berukuran besar dan nomor identitas internasional yang ditulis dalam ukuran besar di lambung kapal tersebut. Pesawat-pesawat tempur Israel melintas di atas kapal USS Liberty lama sebelum serangan itu dilakukan, terbang sangat dekat sehingga anggota kru USS Liberty bahkan dapat melihat lambaian tangan-tangan mereka ketika melintas. Seperti dalam kasus Lavon Affair, Israel berharap menyalahkan tindakan perang ini kepada musuhnya, Mesir. Pada kesempatan ini, hanya keberanian dan kemampuan kru USS Liberty mencegah serangan siluman berikutnya.

Media massa Amerika yang didominasi Amerika tidak mengungkapkan kemarahan atas serangan itu dan secara tersamar menerima alasan Israel atas kasus ini. Walaupun menteri luar negeri dan kepala staf gabungan Amerika Serikat keduanya menyatakan serangan Israel itu disengaja, tetapi lobi Yahudi dapat mencegah penyelidikan formal Kongres atas serangan itu. Sebaliknya, kapal perang se-tipe USS Liberty, yaitu USS Pueblo, ditangkap oleh Korea Utara pada tahun berikutnya (1968) dengan korban hanya satu orang, tetapi dalam waktu satu tahun Kongres Amerika Serikat melakukan penyelidikan formal atas serangan itu. Komandan USS Liberty, Kapten William McGonagle, menerima medali America’s highest honor, medali kehormatan kongres karena keberaniannya selama serangan Israel tersebut. Tetapi, pemberian medali itu diselenggarakan dalam sebuah upacara tersembunyi di US Navy Yard dan bukan di Gedung Putih (sebagaimana biasanya), agar tidak mencoreng citra musuh utamanya yang membunuh 34 tentara Amerika dan melukai 174 lainnya di atas USS Liberty!

Bagaimana para pemimpin politik Amerika Serikat merespons tindakan perang Israel ini terhadap bangsa Amerika? Apakah Amerika membom Israel sebagaimana yang dilakukannya atas Kabul, Afghanistan? Tidak, pemerintah Amerika yang dikontrol Israel bersama dengan media masa yang dikontrol Yahudi melakukan tindakan subversi terhadap bangsa Amerika dengan menutup-nutupi serangan teroris yang jahat itu dan terus menerus mengirimkan milyaran dolar pajak Amerika dalam bentuk bantuan moneter dan militer ke Israel.

Saya juga ingat kasus Pearl Harbor. Setiap pejabat pemerintah Amerika yang memberikan bantuan atau bersimpati kepada Jepang setelah serangan pada tahun 1941 akan dihukum sebagai seorang pengkhianat bangsa Amerika Serikat. Saya menuding bahwa para pejabat pemerintah Amerika yang berkolaborasi dengan lobi dan media Yahudi dengan terus menerus mendukung Israel setelah serangan negeri Yahudi ini terhadap kapal perang Amerika USS Liberty – adalah para pengkhianat bangsa Amerika Serikat!

Apabila, setelah serangan subversif Israel terhadap kapal perang Amerika, kita dapat menghentikan secara subversi dukungan negara teroris Israel; dengan demikian, kita pasti tidak akan mengalami tindakan terorisme 11 September 2001.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: