SECERCA ASA

Irama yang berdesakan di dalam jiwa, membuat aku tak kuasa menahan diri untuk melihat semua itu. Tubuhku tenggelam di antara orang-orang yang terpikat untuk menyaksikannya. Mereka meliuk-liuk mengikuti detak irama yang saling bertautan, sehingga sesering kali mereka saling bertabrakan satu dengan yang lainnya.
Malam ini, akupun hanya membiarkan diri semakin larut dan tenggelam tanpa mempedulikan apa kata sesiapa, kendati suatu kali tubuhku hampir saja terjatuh lantaran berdesakan dengan mereka.

Demi masa yang terjalin dulu, natkala bulir-bulir kasih telah membutir, mengalun cinta yang mengalir di setiap nadi, hingga getaran-getaran di urat sarafku… mampu memberikan ungkapan rasa yang pernah terucap dari bibirku. Sekeping tanda kasih aku persembahkan untuknya… dengan segala bias kasih yang tulus dan jujur kan terpatri dengan tiap buih kehidupan yang menyatu pada tiap puing hitungan zaman.
Kerna cintanya pula, aku mampu menjadi pemulung yang senantiasa setia memungut serpih estetikanya, meski sajak lusuhku yang masih bersimpuh mengemis cintanya… tak ubah bulir kemunafikan yang menyatu dalam prasangka buruk, sebuah ketulusan naluri yang tak mampu ia maknai.

Dalam bathin, dialah tempat bersandar untuk melepas duka di tiap lara yang tertinggal, dan hanya kepadanyalah tempat meluahkan harap ketika rindu telah mengakar.
Kiranya malam inilah yang membuatku hadir di panggung pertunjukan GALSARI. Sekali ini, hasratku sudah tak terbendung lagi untuk mengikuti kemauan bathin, bertekat untuk membaur dengan mereka yang terbuai dengan alunan gendang dan seruling. Keinginanku bukanlah untuk melihat pertunjukan itu… tapi yang kutahu hanyalah arah kemana aku harus melangkah untuk mengobati rindu.

Bayangkan, bagaimana ia bernyanyi dan melenggang dalam kepungan banyak lelaki, berjoget dan sesekali menyalami mereka yang bermatakan jalang, serta mempertaruhkan diri dari gunjingan-gunjingan miring tentang seorang biduan. Yah dialah DN…., seorang gadis yang pernah mengukir keindahan dalam hatiku, seseorang yang sangat dekat dan aku kenal di kota tercintaku, serta seseorang yang senantiasa aku rindukan di saat-saat seperti ini…
Tapi entahlah… disini, perasaanku semakin lama semakin tak menentu, rasa kecewa, cemburu dan tak rela semakin bercampur menjadi satu. Cukup… cukup sekali ini kututup salam rindu, biarlah semua tersimpan di lubuk hati… meski tak satupun ia maknai arti rinduku.

Di tengah jalan yang membentang diantara pematang sawah, tekatku semakin bulat untuk melangkah jauh dari semua itu. Di sini, sudah tidak ku dengar lagi alunan musik yang bertautan, berganti nyanyian malam yang berpadu dengan suara jengkerik bertabur dengan gemerlap cahaya kunang-kunang….
Aku tak tahu pasti… apakah setelah malam ini, aku mampu melewati malam-malam ketika rindu itu selalu hadir. Kadang aku tegar mengahadapi semua ini dan terkadang aku rapuh untuk berpaling dari rasa sesak ini, tapi hanya dengan jalan inilah aku harus melewatinya…

by rizqiaji – Agustus 2006
KEMBALI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: