Ketika Retak Dalam Hati

    Saat penunjuk muara zaman semakin larut berjalan,
    ada kutemukan takjub yang menggelayut…
    sertakan yohana kenang yang terekam dalam otak kusut ku,
    menghujam sayatkan nyeri…
    dalam kejanggalanku dari belenggu kerinduan.
    Tak terasa…, mataku rabun kian kabur,
    membendung air rintihan hati dan jatuh disebuku pipi.
    Sungguh…,
    Tak dapat aku artikan nyeri yang runcing natkala bibirmu terucap nista,
    mengujam sayatkan sembilu kedalam perih di lubuk empedu,
    mencengkram lara bertubi menikam menancap ke ulu.
    Tiada tawar baluti luka… meski sujudpun untuk menghiba.
    Terasa runcing arti perpisahan…
    menghujam jatuhkan pati tanpa setitik alasan,
    sulit dimengerti dosa insan yang telah diperbuat.

    Lewat sengkayan masa…
    Derit sejarah telah lama berlalu,
    ada sebilah elegi menelikung jiwangga,
    natkala kakimu berpijak disangkar titihanku…
    jatuh bersimpuh kedalam pelukanmu,
    berpinta mengutip pertalian do’a nuftah…
    kembali untuk intimi jejak yang terberai.
    Kerna itulah ayat-ayat setiaku yang zahir dan berzikir,
    membuihkan azimat menyambut bujuk nohtah mu…
    Hingga ku tasbihkan hibamu sebagai takbir penentu,
    Kedalam ikatan suci yang menikahi suroh samawi.

    by rizqiaji ~ Maret 2006
    KEMBALI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: